Header Ads

Penyebab dan Cara Mengatasi Daun Aglaonema Mengerdil Memucat atau Menguning

DOK. KABARESOLO - Beberapa gangguan fisiologis pada daun aglaonema seperti warna memucat atau daun muda mengerdil.


KABARESOLO.COM - Aglaonema disebut ratu daun, maka daya tariknya ada pada daun tapi bagaimana kalau daunnya justru mengalami gangguan fisiologis yakni memucat, mengerdil atau menguning?

Tentu hal ini perlu diatasi agar tumbuh kembangnya makin baik dan meningkatkan nilai jual, Senin 19 Oktober 2020.

KabareSolo.com pernah menulis tentang melihat sekilas aglaonema yang sehat.

BACA: Panduan Membeli Aglaonema: Lihat Sekilas Hal-hal Ini

Satu hal mudah yang bisa dilihat yakni daunnya.

Daun aglaonema sehat bila semakin baru, atau semakin ke atas semakin besar, kalau sebaliknya yakni sama dengan bawah atau makin kecil artinya ada masalah di situ.

Buku Seri Agrihobi terbitan Penebar Swadaya tahun 2004 berjudul Tanaman Pembawa Keberuntungan Aglaonema dengan penulis Leman mengupas tentang hal ini.

Selain beberapa berdasar buku tersebut, tulisan ini juga sesuai dengan pengalaman penulis dalam budidaya tanaman hias aglaonema.

Beberapa gangguan pada daun antara lain daun muda kerdil, daun memucat, daun menguning dan daun berdiri tegak.

Gangguan ini masuk kategori gangguan fisiologis.

DOK. KABARESOLO - Ag. Kocin daun muda mengerdil, beberapa waktu sebelumnya tumbuh dua bunga, dan akhirnya bunga dipetik agar daun tumbuh normal.


DAUN MUDA KERDIL

Aglaonema yang sehat semakin tunmbuh ke atas atau daun baru akan makin besar, tapi kalau justru mengecil jelas terjadu gangguan.

Daun aglaonema muda mengerdil lantaran kekurangan zat hara.

Daun yang harusnya mendapatkan nutrisi yang baik terhambat sehingga zat hara tidak sampai pada daun.

Penyebabnya ada beberapa hal, pertama tumbuh bunga.

Ketika aglaonema tumbuh bunga, semua nutrisi diarahkan pada bunga sehingga daun baru justru tidak kebagian, dan akhirnya mengerdil.

Nah bagi penghobi yang memang hanya mengoleksi alias tidak menyilangkan tanaman, bunga tidak ada manfaatnya, maka sebagian penghobi memilih untuk memetik bunga tersebut agar pasokan nutrisi kembali normal pada daun.

Penyebab ada masalah terkait perakaran, bisa saja akar sedikit sehingga nutrisi banyak untuk menumbuhkan akar, atau justru akar kena masalah atau rusak satu di antaranya kena jamur pythium.

Cara mengatasi yakni bongkar, lalu akar yang busuk dibuang, kemudian ganti media tanam yang steril.

Media tanam yang sudah tercemar jamur pythium dibuang.

Jamur pythium menyerang pada tanaman dengan drainase yang buruk, terlalu basah atau bahkan air tidak keluar ngocor justru menggenang di dalam.

Kondisi ini yang menyebabkan tanaman terserang akar busuk.

Jadi pastikan ganti media tanam dengan drainase bagus, porous, dan saat penanaman jangan lupa semprot media dengan fungisida contoh antrakol.

Penyebab ketiga yakni media tanam sudah tak bisa memenuhi nutrisi bagi daun, maka perlu dilakukan penggantian media tanam atau pemupukan lebih lanjut.

DOK. KABARESOLO - Ag. Lucia daun bawah memucat hal tersebut wajar karena nutrisi banyak terserap untuk tumbuh kembang dua anakan.


DAUN MEMUCAT

Daun aglaonema yang sehat memiliki warna yang cerah, bahkan ketika terkena debu hanya dengan dilap air bersih atau kena air saat penyiraman daun akan mengkilap.

Banyak yang mencoba mengkilapkan daun bahkan ada yang nekat menggunakan minyak padahal justru berbahaya untuk tanaman ini.

Ada pengkilap daun buatan pabrik yang cukup aman digunakan tapi ada juga yang bisa buat sendiri.

KabareSolo.com pernah menulis bagaimana mengkilapkan daun.

BACA: Pakai Deterjen hingga Susu: Perawatan Aglaonema 'Tak Masuk Akal' tapi Tertulis di Buku

Daun memucat kemungkinan kekurangan cahaya dan kekurangan zat hara.

Aglaonema dikenal sebagai tanaman indoor tapi minimal seminggu sekali harus kena cahaya dan udara segar.

Cahaya pagi antara pukul 07.00 - 10.00 WIB dikenal sangat bagus untuk aglaonema, cajaya sore juga lumayan kisaran pukul 15.00 - 17.00 WIB.

Namun tetap diperhatikan kalau kena panas langsung tubuh kita saja nggak nyama apalagi untuk aglaonema.

Terutama untuk panas siang, sebaiknya aglaonema pada siang hari diberi naungan paranet disesuaikan dengan lokasi.

Aglaonema pada Buku Panduan Praktis Perawatan Aglaonema karya Kurniawan Junaedhie disampaikan kalau aglaonema hanya bisa menerima 40 persen cahaya matahari karena dulu tanaman ini memang tumbuh di hutan dan di bawah naungan pohon-pohon rindang.

Meski demikian ada juga penghobi yang nekat menjemur tanamannya, ada yang nekat sampai pukul 11.00 WIB kemudian dilanjut panas sore, hasilnya banyak tumbuh anakan bahkan capai belasan anakan.

Meski demikian akhirnya daun tua yang dikorbankan ada yang gosong, juga tetap harus mendapatkan air yang cukup.

Itu kalau untuk pembudidaya yang ingin memperbanyak aglaonema tapi kalau ingin mempercantik aglaonema agar daun tak memucat cukup dengan memberikan cahaya yang cukup untuk aglaonema.

Sementara untuk kebutuhan zat hara jangan lupa beri pupuk yang cukup ada juga pupuk yang perlahan larut agar keseimbangan nutrisi terjaga, tapi ketika media tanam sudah kekurangan banya zat hara sebaiknya dilakukan penggantian media tanam.

Biasanya penggantian media tanam sekitar 6 bulan hingga satu tahun sekali.

Penggantian pot dan tanaman juga dilakukan pada tanaman yang makin besar dan akar sudha semakin banyak.

Ada juga daun memucat karena nutrisi diarahkan untuk anakan, Ag. Lucia yang dirawat penulis sudah muncul dua anakan dan daun di sekitar anakan tampak memucat.

Hal ini wajar mengingat banyak nutrisi diarahkan untuk pertumbuhan dua anakan ini.

DAUN MENGUNING

Daun menguning pada aglaonema wajar jika terjadi pada daun bawah dan memang sudah tua saatnya untuk digantikan dengan daun-daun baru.

Namun jika banyak daun yang menguning perlu dipertanyakan ulang bisa jadi media tanam terlalu basah, lembab atau dingin.

Mengatasinya tentu dengan memperhatikan media tanam.

Semoga bermanfaat. (KabareSolo.com/Rimawan Prasetiyo)



Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.