Header Ads

Mengenal Aglaonema Sejak Sri Rejeki Masih Hijau Hingga Merah Merona Mahal Harganya

DOK. KABARESOLO - Aglaonema kini telah beraneka ragam bukan hanya berwarna hijau semata. Tanaman ini dipercaya membawa keberuntungan untuk menghasilkan rezeki yang berlimpah.


KABARESOLO.COM - Banyak yang menduga jual beli tanaman aglaonema hanya bisnis sementara, tren sesaat, ada juga yang menyebut monkey money, sekarang harga gila-gilaan selanjutnya akan jatuh luar biasa bikin rugi besar dan menyesal tujuh turunan.

Punya pendapat seperti itu tentu tak jadi masalah karena ini negeri demokrasi, setiap orang punya pendapat masing-masing hanya saja pendapat seperti itu karena didasari ketidaktahuan.

Orang yang sudah kenal serta paham seluk beluk hingga sejarahnya, tanaman aglaonema adalah potensi bisnis besar, Rabu 14 Oktober 2020.

KabareSolo.com pernah mengupas hal ini.

BACA: Ternyata Gara-gara Ini Harga Ratu Daun Meroket Apakah Aglaonema Bakal Senasib Gelombang Cinta?

Harga aglaonema apakah bisa turun?

Tentu jawabannya iya, saat ini lantaran pandemi banyak yang kerja dari rumah dan aktivitas di luar dibatasi banyak yang menyalurkan hobi baru bercocok tanam.

Aglaonema kembali naik daun setelah banyak penghobi baru bermunculan terutama kaum ibu rumah tangga dan karena permintaan meningkat harga jadi naik gila-gilaan.

Namun selanjutnya ketika aktivitas kembali normal setelah adaptasi baru harga aglaonema diprediksi akan turun.

Merunut pengalaman masa lalu berdasar pendapat pembudidaya sekaligus penjual tanaman aglaonema turunnya harga ratu daun tak akan drastis.

Alasannya sederhana aglaonema memiliki penghobi dan kolektor serius serta memiliki komunitas yang sudah berdiri sejak era 90-an.

Apalagi saat ini aglaonema tak sepolos dulu yang hanya hijau, kini memiliki banyak corak, warna dan jenis.

ARTI NAMA

Tanaman ini pada tahun 80-an populer dengan sebutan Sri rejeki.

Penyebutan Sri rejeki identik dengan daunnya yang berwarna hijau, tapi kini setelah berubah drastis dengan berbagai warna bukan hanya hijau yakni ada merah, pink, kuning dan putih ditambah lagi dengan motif seperti batik dan sebagainya nama yang dikenal menjadi aglaonema.

Buku berjudul Galeri Aglaonema terbitan Penebar Swadaya menjelaskan, aglaonema banyak disukai karena memancarkan aura dingin dan memiliki kekuatan simbolis.

Berdasar nama dari bahasa Yunani yakni aglaos yang artinya sinar dan nema yang artinya benang.

Bila digabung tertera makna benang yang bersinar.

Secara harafiah menurut buku ini aglaonema memiliki arti tanaman yang membawa energi dan keberuntungan.

Berdasar buku Panduan Praktis Perawatan Aglaonema karya Kurniawan Junaedhie Aglaonema memiliki makna helaian benang yang bersinar terang.

Selain daya tarik warna daunnya yang indah, banyak masyarakat dunia percaya bahwa tanaman ini bisa mendatangkan keberuntungan.

Aglaonema di Tiongkok disebut wanneienching - chinese evergreen, di Thailand siamese rainbow sementara orang Malaysia menyebut nama tanaman ini goodluck yang artinya sebagai pembawa keberuntungan.

Di Indonesia disebut Sri rejeki yang konon tanaman ini bisa mendatangkan rezeki yang berlimpah.

Dulu aglaonema identik dengan daun hijau saja tapi berkat Nat De Leon pelopor persilangan aglaonema asal Florida, Amerika Serikat yang menghasilkan aglaonema hibrid, nasib Sri rejeki jadi berubah.

Jadi seperti diketahui aglaonema saat ini ada dua jenis, yakni aglaonema asli atau disebut agaonema alam/spesies, itu artinya aglaonema yang tumbuh di alam tanpa ikut campur manusia.

Jenis kedua yakni hibrid yakni aglaonema hasil persilangan yang dilakukan manusia.

Kalau Nat De Leon sang pelopor di Indonesia bisa disebut masternya yang melegenda yakni Gregori Garnadi Hambali.

Sosok yang disebut makcomblangnya aglaonema ini sukses membawa aglaonema di kiprah tanaman hias karena jasanya.

Greg sudah berhasil menyilangkan capai ratusan jenis yang populer di Indonesia maupun mancanegara bahkan kini jadi semacam koleksi wajib bagi para penghobi untuk beberapa silangannya.

Silangan yang sempat menggegerkan hingga kancah internasional yakni karyanya Pride of sumatera.

Pride of sumatera saat ini berlimpah produknya di Indonesia tapi uniknya harga tidak jatuh, untuk satu pot satu batang dengan 6 atau 7 daun di usia dewasa kini di kisaran harga Rp 300 ribu hingga 500 ribu, kalau induk serta anakan bisa di angkat Rp 800 ribu hingga Rp 1,5 juta, bahkan bisa lebih kalau banyak rumpun dan anakannya.

Pada Buku Galeri Aglaonema, Greg pada tahun 1985 menyilangkan Aglaonema rotundum dan A. commutatum, hasilnya Pride of sumatera atau kebanggaan dari Pulau Sumatera.

Sedangkan pada buku 'Buku Pintar Tanaman Hias' terbitan Agromedia Pride of sumatera dihasilkan pada tahun 1980 dan baru dikeluarkan pada tahun 1988.

Sejak saat itu aglaonema populer dan harganya meroket.

Sayangnya saat ini bermunculan penghobi baru atau yang baru masuk ke bisnis jual beli menyebut jenis ini red sum singkatan dari red sumatera.

Mungkin sulit nyebut dan nulis Pride of sumatera jadi nyebutnya redsum.

Penyebutan redsum atau red sumatera salah, yang benar Pride of sumatera.

Kelahiran Pride of sumatera menggegerkan dunia tanaman hias saat itu karena rona hijau pada daun sedangkan tulang daun berwarna merah pekat membuatnya tampil menawan.

Hingga saat ini Pride of sumatera seolah jadi tanaman wajib bagi penghobi aglaonema.

AGLAONEMA INDONESIA

Tanaman hias aglaonema identik dengan dua negara yakni Indonesia dan Thailand.

Dari sisi kualitas hasil silangan Indonesia tak perlu diragukan tapi kalah jauh soal kuantitas karena jumlah penyilang di Thailand capai puluhan orang sementara di Indonesia hanya bisa dihitung dengan jari.

Itu pun yang paling dikenal luas yakni Greg Hambali.

Buku Trubus Info Kit Vol.6 berjudul Aglaonema Teknik Baru Peluang Baru terbit April 2009 menyebut, Greg Hambali yang berkiprah puluhan tahun menghasilkan sekitar 200-an varietas (red: untuk sekarang 2020 mungkin sudah lebih banyak lagi ya).

Hasil silangan Greg Hambali sebagian telah diberi nama dari kelompok sparkle dan splash.

Sedangkan varietas rubi dan lipstick umumnya masih tanpa nama.

Buku terbitan tahun 2009 ini dituliskan ada sekitar 56 varietas rubi dan lipstick ada 30 varietas.

Meski hasil silangan Indonesia jumlahnya lebih sedikit tapi sebagian besar bisa diterima pasar, seperti Donna carmen, Pride of sumatera, Adelia, Widuri, Sexy pink dan Tiara.

Tiga varietas terakhir yakni Widuri, Sexy pink hingga Tiara jadi rebutan pada saat pelepasannya.

Pada saat itu bahkan ada yang rela inden untuk mendapatkan anakan Widuri dan Sexy pink, saat itu harga yang ditawarkan capai Rp 4 juta per lembar daun.

Tahun 2020 tak sulit ya mendapatkan Widuri dan Tiara, keduanya tak terlalu mahal satu pot usia dewasa dengan satu batang dan 6 atau 7 daun ada di kisaran harga Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Sexy pink agak langka makanya agak mahal bisa lebih harganya dari kisaran tersebut.

Setelah pelepasan dari Greg ke penghobi dalam waktu satu tahun para penghobi dan pembudidaya sukses merawat dan menghasilkan belasan anakan dan hingga sekarang harganya makin terjangkau.

AGLAONEMA THAILAND

Produksi aglaonema Thailand luar biasa, masih di buku Trubus Info Kit tahun 2009, jumlah pemulia tanaman aglaonema capai lebih dari 60 orang.

Mereka menghasilkan ribuan varietas sekitar 300-400 varietas sudah tersebar di Indonesia (red:kalau kini tahun 2020 tentu angkanya sudah lebih dari itu).

Beberapa silangan Thailand sangat populer karena keindahannya dan harganya yang terjangkau yakni Lady valentine, Dud unyamanee, siam aurora, manee lompech dan legacy.

Nah tahun 2019-2020 Indonesia kebanjiran Suksom yakni jenis Kocin warnanya merah menyala dengan pinggiran hijau.

BACA: Kenapa Baru Beli Aglaonema Suksom Seminggu Langsung Mati? Pahami Hal Ini

Varietas-varietas tersebut dimasukkan ke Indonesia secara masal, pemulia tanaman asal Thailand menggunakan teknik kultur jaringan sehingga dalam tempo satu sampai dua tahun dihasilkan puluhan ribu tanaman.

Tak heran kalau harganya turun drastis.

Tolak ukur kesuksesan suatu jenis aglaonema karena beberapa faktor antara lain sosok menarik, baik bentuk maupun warnanya, jumlah terbatas dan tidak terlalu mudah diperbanyak.

Masih berdasarkan Trubus Info Kit Vol.6 konsumen tidak peduli dengan produk lokal atau impor, bila dirasa kurang menarik mereka tidak akan memilihnya. (KabareSolo.com/Rimawan Prasetiyo)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.