Header Ads

Ternyata Gara-gara Ini Harga Ratu Daun Meroket Apakah Aglaonema Bakal Senasib Gelombang Cinta?

DOK KABARESOLO.COM - Beberapa jenis Aglaonema koleksi penghibi serius searah jarum jam yakni Diana, Reanita, Susan, Lucia Lucas, Asri, Green Papuma, Wulandari, Harleyquin, Goliath, Pride of sumatera, Suksom jaipong, Moonlight dan Widuri tulang merah.


KABARESOLO.COM - Beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan salah satu pedagang tanaman hias, ia masih ingat masa-masa kejayaan Anthurium gelombang cinta.

Ia sempat merasakan manis dan pahitnya kepopuleran Gelombang cinta era tahun 2006-2007.

"Saya sempat menyesal karena terakhir Gelombang cinta milik saya sudah ditawar Rp 5 juta tapi tidak saya kasih, berselang dua minggu harga Gelombang cinta seperti sampah, akhirnya sekarang lama-lama mati di pojok rumah," kata Agus warga Singopuran, Kartasura beberapa bulan lalu saat ngobrol dengan KabareSolo.com.

Agus adalah seorang wirausahawan, ia memiliki beberapa usaha dulu fokus jual beli tanaman hias tapi kini lebih menekuni jual beli ikan hias di rumah, Kamis 10 September 2020.

Ia juga mengisahkan nasib tetangganya yang juga sama-sama enggan melepas Anthurium gelombang cinta padahal saat itu sudah ditawarkan sebuah mobil sebagai mahar tanaman tersebut.

Anthurium gelombang cinta milik tetangganya memang besar dan saat itu booming harganya edan-edanan.

Apa yang terjadi, berselang satu minggu harga Gelombang cinta ambruk, bahkan ia mendengar ada seorang yang sudah terlanjur jual sapi untuk membeli Gelombang cinta akhirnya jatuh sakit lalu tak berselang lama meninggal dunia gara-gara harga gelombang cinta yang ambruk.

Menurut Agus Anthurium gelombang cinta dimainkan oleh pedagang nakal, jadi antar pemilik harga Anthurium didongkrak tinggi hingga harga tak masuk akal.

Kemudian setelah naik sangat tinggi langsung dibuang stok sangat banyak ke pasaran, hal ini yang membuat Anthurium gelombang cinta jatuh harganya sampai titik terendah.

Ada yang sempat mencicipi manis kepopulerannya ada juga yang kena getah kejatuhannya.

Agus sendiri mengaku sempat mendapatkan untung tapi di akhir-akhir ia memilih tak melepas padahal sudah di harga tinggi dan sudah untung.

Ia tak menyangka kalau gelombang cinta bakal sejatuh itu, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga untuknya saat berkecimpung di dunia bisnis ini.

Itu salah satu penyesalan terbesar saat berbisnis tanaman hias, andai saja ia tergiur potensi harga lebih tinggi tentu Gelombang cinta miliknya menghasilkan uang bukannya mati tak terawat.

Fenomena gelombang cinta mirip dengan kondisi saat ini.

Beberapa tanaman hias kembali melejit harganya, demikian dengan Anthurium jenis jemani apalagi yang variegata harganya tinggi, lalu ada sansiviera dan yang naiknya beberapa kali lipat dibanding harga sebelumnya adalah si ratu daun yakni Aglaonema.

Aglaonema sudah populer di era tahun 90-an dan makin populer setelah ada berbagai jenis Aglaonema berhasil disilangkan.

Bila dulu Aglaonema hanya bercorak warna hijau dan putih, kini bahkan warna warni didominasi dengan warna merah.

Tak lepas dari jasa pemulia tanaman asal Bogor Greg Hambali disebut sebagai Bapak Aglaonema, Makcomblangnya Aglaonema.

Di tangan Greg Hambali Aglaonema yang dulu hanya berwarna hijau dan putih kini telah berhasil ia silangkan dan makin beragam corak batik serta warnanya.

Paling populer yakni mahakarya Pride of sumatera silangan dari Rotundum aceh dan satu jenis aglaonema alam lainnya.

Setelah ini muncul berbagai jenis lainnya dengan berbagai nama dan corak.

Belum lagi penyilang-penyilang mumpuni asal Thailand yang jumlahnya sangat banyak.

Nah kepopuleran ratu daun meningkat di masa Pandemi Covid-19, karena pembatasan aktivitas di ruang-ruang publik.

Lalu anjuran untuk bekerja di rumah, sehingga banyaknya waktu luang yang membuat bermunculan penghobi-penghobi baru.

Kenapa Aglaonema booming?

'Biang keroknya' adalah media sosial seperti Facebook dan Instagram, banyak yang posting Aglaonema-aglaonema super cantik di beranda FB maupun di Instagram bikin banyak orang pengin.

Orang yang dulunya nggak kenal Aglaonema setelah melihat postingan teman-temannya jadi kepingin dan akhirnya ikut menanam.

Hukum dasar ekonomi, supply and demand kalau permintaan meningkat dan pasokan produk sedikit tentu harga akan naik.

Demikian dengan Aglaonema, gara-gara pandemi banyak aktivitas di rumah, lalu saling lihat postingan di media sosial pada pamer Aglaonema yang dirawat akhirnya bermunculan penghobi baru.

Nurseri kewalahan dengan permintaan Aglaonema yang demikian banyaknya hal-hal ini yang menyebabkan harganya naik sangat tinggi.

Bisa dibayangkan bila dulu Aglaonema bisa dibeli dengan harga di bawah seratusan ribu rupiah kini rata-rata di atas ini.

Masih ada sih beberapa jenis Aglaonema yang harganya di bawah seratus ribu saat ini yakni Donnacarmen, Butterfly, Lipstik siam aurora, Big roy, Rotundum dan Snow white.

Namun bila daunnya sangat rimbun dan sudah miliki banyak anakan tentu harganya lebih dari Rp 100 ribu.

Keberadaan beberapa jenis Aglaonema tersebut masih harga murah lantairan jenis-jenis tersebut sangat mudah memperanakkan sehingga jumlah pasokan di pasar Aglaonema lebih berlimpah.

Sehingga seperti prinsip ekonomi tadi karena pasokan berlimpah harga murah, nah yang masih menjadi misteri adalah Pride of sumatera.

Pride of sumatera ini terbilang sangat mudah memperanakkan dan pasokan di pasaran berlimpah tapi harga bukannya turun malah stabil dan cendereung naik.

Usia remaja saja harganya di angka lebih dari Rp 250 ribu.

Sementara jenis-jenis lain jangan tanya harganya melonjak beberapa kali lipat apalagi yang memang Aglaonema kolektor serius, antara lain khresna, hugghes, goliath, moonlight, khanza, lotus delight, asri, widuri tulang merah, romantic love, tiara, mutiara, hot lady, adelia, widya, wulandari dan masih banyak jenis lainnya.

Aglaonema memiliki berbagai macam warna, corak, bentuk daun, ketebalan, daya tahan, dan mutasi yang alami, sehingga ini jadi daya tarik tinggi juga jadi alasan harga Aglaonema meroket.

APAKAH AGLAONEMA BAKAL SENASIB GELOMBANG CINTA?

Pertanyaan ini sering muncul, bahkan beberapa grup FB komunitas penghobi Aglaonema, anggotanya banyak yang menanyakan apakah harga Aglaonema bakal turun, apakah senasib dengan Anthurium gelombang cinta, kalau turun kapan dan sebagainya.

Menjawab ini Agus Kholik pemilik Krokot Nursery berlokasi di Sleman, Yogyakarta, pernah sampaikan pendapatnya pada KabareSolo.com.

Ia mengatakan kalau sudah berkecimpung di dunia Aglaonema sekitar 5 tahun dan selama ini harga Aglaonema selalu stabil.

Agus Kholik pun mengaku kaget hanya kali ini, saat pandemi harga jadi aneh, naiknya sangat tinggi.

Selama ia berkecimpung di dunia Aglaonema kulakan tanaman juga melakukan perawatan serta budidaya, harga selalu stabil.

Naik tapi tidak drastis, beberapa Aglaonema versi 'langitan' (sebutan level atas harga tinggi, indah dan berkualitas), harganya masih stabil meski cenderung naik.

Menurutnya Aglaonema punya penghobi serius apalagi banyak macam dan corak serta jenis-jenis baru yang bermunculan, makanya ia mengatakan Aglaonema nggak bakalan bernasib sama seperti kasus gelombang cinta.

Yang ada malah nurseri selalu kehabisan stok, karena permintaan selalu meningkat.

Ketika nantinya permintaan tak meningkat hargapun nggak akan benar-benar anjlok, turun sedikit tapi tetap stabil karena komunitas penghobi serius yang terus eksis.

Kenapa harga sangat tinggi, Agus Kholik menilai ini tak lepas dari peran ibu-ibu.

"Aglaonema itu dulu hobinya laki-laki, bapak-bapak, nah di masa pandemi justru banyak penghobi baru emak-emak. The power of emak-emak tak ada yang bisa lawan," jelasnya.

Makanya permintaan terus naik.

Ia pun kemudian membuat aturan baru, khusus di nurserinya hanya diperbolehkan membeli Aglaonema maksimal 100 buah tak bisa lebih dari itu untuk memberi kesempatan bagi penghobi-penghobi baru untuk bisa membeli dan merawat.

Wawancara dengan Agus Kholik itu sekitar akhir Juli 2020, dan hingga tulisan ini ditayangkan banyak nurseri yang mengaku kehabisan stok.

Aglaonema memunculkan geliat bisnis menggiurkan dan membantu jutaan orang bisa bertahan di kala pandemi.

Tak sedikit yang usahanya bangkrut karena pandemi, atau terpaksa di rumahkan akhirnya bisa terus mendapat penghasilan dari budidaya dan jual beli Aglaonema.

Setelah baca ini berminat untuk bisnis Aglaonema? Silakan peluang masih banyak dan semoga berhasil. (KabareSolo.com/Rimawan Prasetiyo)


Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.