Header Ads

Kenapa Baru Beli Aglaonema Suksom Seminggu Langsung Mati? Pahami Hal Ini

DOK. PRIBADI - Suksom Jaipong usia dewasa koleksi Mutiara seorang warga Kartasura.



KABARESOLO.COM - Siapa yang tak terpesona dengan aglaonema silangan pembudidaya asal Thailand, si merah membara. 

Hampir semua orang kepincut dengan dua aglaonema yang paling populer saat ini si penggoda isi dompet yakni suksom jaipong dan suksom culture.

Apalagi saat ini sangat berlimpah di Indonesia, sekitar dua minggu lalu impor dari para pedagang masuk ke Indonesia, meski pasokan berlimpah harga suksom tetap stabil yakni masih remaja sekitar Rp 350 ribu sampai Rp 500 ribu, Sabtu 5 September 2020.

Namun siapa sangka baru saja beli dengan harga ratusan ribu kurun seminggu sampai satu bulan lama-lama daun dan batang layu batang lonyot dan akhirnya mati.

Padahal saat beli di pedagang se ara langsung terlihat sangat sehat, daun tegak warna cerah, atau ketika beli secara online setelah dilakukan treatment saat datang layu lalu setelah beberapa hari segar kembali tapi kenapa tak lama kemudian mati?

Hampir penghobi baru mengalaminya, apalagi yang jam terbang untuk merawat aglaonema ini masih rendah.

Faktor utama memang kemampuan dan pengetahuan dalam merawat karena aglaonema ini memang istimewa dan perlu penanganan khusus.

Suksom jaipong dan suksom culture merupakan Cochin hybrid, penyilangnya dari Thailand dan merupakan keturunan aglaonema Cochinchinense.

Buku berjudul Galeri Aglaonema terbitan Penebar Swadaya mengupas kalau cochin hybrid memiliki ciri khas daun gemulai dan ada pula yang bergelombang pada bagian pinggirnya.

Susunan daun saling menumpuk, rapi dan bergerombol, bentuknya simetris, luwes sehingga enak dipandang dari segala arah.

Warna dasarnya bervariasi mulai dari pink lembut hingga merah merona.

Si warna pink tampak anggun sedangkan si merah memancarkan semangat, kegagahan dan sangat menggoda mata.

Cochin berciri ujung dan tepi daun dihiasi warna hijau dengan beragam bentuk mulai bintik-bintik, bercak-bercak, sampai ngeblok.

Nah satu hal yang terlupakan yakni pentingnya memahami sifat dan karakter aglaonema, sehingga kita tahu bagaimana penanganannya.

Masih berdasarkan buku Galeri Aglaonema, aglaonema dibagi dalam empat hal yang mewakili sifat serta karakternya.

1. Hijau

Aglaonema berdaun hijau memiliki daun relatif lebih tebal sehingga daya tahan kuat dan bandel.

Bahkan sampai terkena guyuran air hujan saja tidak masalah. Pertumbuhannya cepat dan banyak memunculkan anakan.

Contoh aglaonema hijau yakni Madame soeroyo, Nina dan Kreshna.

2. Merah

Suksom jaipong dan culture masuk jenis ini. Pada umumnya aglaonema merah bersifat manja dan lebih rentan bila lingkungan tidak sesuai dengan yang diinginkannya.

Hal ini terkait dengan kondisi daun yang tipis. Perbanyakan melalui setek pucuk atau pisah rumpun sulit karena munculnya anakan butuh waktu lama. Contoh aglaonema merah yakni Red jewelery dan Cochin hybrid.

3. Corak

Jenis ini merupakan kombinasi antara aglaonema hijau dan merah. Ini artinya memiliki sifat perpaduan antara keduanya.

Perawatan relatif lebih mudah karena lumayan bandel dan termasuk jenis yang mudah memunculkan anakan, meski tidak sebanyak jenis hijau. Contoh aglaonema corak ini adalah Tiara, Dolores dan Hot lady.

4. Putih

Aglaonema ini memiliki pola warna putih berbintik-bintik atau loreng hijau, daunnya lebar dan tipis.

Agar tampil bagus sebaiknya diletakkan di tempat teduh dan butuh waktu untuk memunculkan anakan.

Contoh aglaonema putih yakni Snow white dan Morodoklo.


Jadi jelas bukan kalau aglaonema merah memiliki karakter manja, tidak tahan banting kalau lingkungannya nggak sesuai yang diinginkan tentu mudah sakit dan penyembuhannya butuh waktu dan kemampuan.

Kasus Suksom jaipong dan Suksom culture yang dikeluhkan banyak penghobi pemula banyak mati karena gagalnya proses adaptasi dari budidaya asal di Negara Thailand ke Indonesia.

Meski iklim Thailand dan Indonesia mirip tapi Cochin hybrid butuh oenanganan khusus apalagi setelah melalui perjalanan panjang.

Hal yang sering dijumpai setelah impor seharusnya pengimpor menyehatkan terlebih dahulu biar ada proses adaptasi dengan kondisi lingkungan di Indonesia, tapi yang terjadi baru datang langsung diambil para pedagang.

Nah sama datang ke pedagang lalu diambil lagi oleh pedagang dan belum melewati beberapa hari sudah meluncur ke seluruh Indonesia.

Maka tak heran Suksom yang sudah mengalami perjalanan jauh belum pulih dari stres, belum pulih dari beradaptasi iklim sudah kembali melakukan perjalanan panjang.

Suksom yang sampai ke penghobi meski terlihat sehat ternyata di dalamnya sudah rentan, apalagi setelah dekat dengan aglaonema lainnya yang sudah kena bakteri misalnya, maka mudah tertular dan tak lama kemudian bisa mati.

Sebaiknya ketika sudah terlihat sakit langsung diobati jangan sampai menyebar hingga semua batang lonyot dan tak bisa diselamatkan.

Nah tips untuk Anda sebagai penghobi pemula yang memilki jam terbang rendah sebaiknya beli Suksom jaipong maupun culture di nurseri yang bagus kredibilitasnya.

Yakni nurseri dengan pemilik yang jujur menyampaikan kondisi suksom yang ia jual, dan ingat jangan tergiur harga murah.

Suksom yang sehat katrena sudah dirawat biasanya harganya lebih mahal dari harga pasaran.

Ini paling penting kalau dijamin sehat beli suksom dewasa dan suksom tersebut dibesarkan dari anakan atau tunas baru yang besar di Indonesia, dijamin tahanbanting dengan iklim Indonesia.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat dan kalau gagal jangan takut untuk mencoba lagi. (KabareSolo.com/Rimawan Prasetiyo)

No comments

Powered by Blogger.