Mengapa Tengkleng Ikon Kuliner Solo? Semua Dimulai dari Zaman Kolonial Belanda Begini Kisahnya
![]() |
| IST - Sejak zaman dulu warga Solo dikenal kreatif dan terciptalah kuliner legendaris. |
KABARESOLO.COM - Saat masa kolonialisme, daging
kambing berkualitas biasanya hanya bisa dinikmati kalangan bangsawan, pejabat
kolonial, atau orang-orang berada.
Namun
warga Solo Raya kreatif, dan kisah ini bermulai, bunyi kleng…kleng…kleng tulang
yang dipukul sendok, jadi kuliner legendaris hingga saat ini, Minggu 31 Mei
2026.
Di antara
banyak kuliner khas Solo seperti nasi liwet, timlo, selat Solo, atau sate
buntel, ada satu makanan yang memiliki cerita paling unik:
Tengkleng.
Sekilas,
tengkleng terlihat sederhana. Isinya tulang kambing dengan sedikit daging yang
dimasak dalam kuah gurih kaya rempah.
Namun di
balik kesederhanaannya, tengkleng menyimpan sejarah panjang tentang
kreativitas, ketimpangan sosial, hingga identitas budaya masyarakat Solo.
Tak
berlebihan jika hari ini tengkleng menjadi salah satu ikon kuliner yang paling
dicari wisatawan saat datang ke Kota Bengawan.
Berawal dari Masa Kolonial
Sejarah
tengkleng dipercaya bermula pada masa kolonial Belanda sekitar awal abad ke-20.
Saat itu
daging kambing berkualitas biasanya hanya bisa dinikmati kalangan bangsawan,
pejabat kolonial, atau orang-orang berada.
Masyarakat
biasa sering kali hanya mendapatkan bagian yang tersisa seperti tulang, kepala,
kaki, jeroan, dan bagian lain yang tidak dianggap premium.
Namun
masyarakat Jawa dikenal kreatif. Sisa-sisa bagian kambing itu tidak dibuang. Mereka
mengolahnya dengan berbagai rempah seperti bawang, kunyit, ketumbar, lengkuas, serai,
daun salam.
Hasilnya
adalah kuah gurih yang mampu mengeluarkan rasa dari tulang-tulang kambing
tersebut.
Konon suara
tulang yang dipukul sendok saat disantap menghasilkan bunyi
"kleng-kleng-kleng". Dari situlah banyak orang percaya nama tengkleng
berasal.
Dari Makanan Sederhana Menjadi Kuliner Legendaris
Awalnya
tengkleng dikenal sebagai makanan rakyat.
Namun
seiring waktu justru keunikan itulah yang membuatnya terkenal.
Berbeda
dengan gulai kambing yang lebih kaya santan atau sate kambing yang dominan
daging, tengkleng menawarkan sensasi tersendiri.
Menikmati
tengkleng bukan hanya soal makan.
Tetapi
juga pengalaman. Orang harus mengisap sumsum, memisahkan daging dari tulang, menikmati
kuah rempah yang meresap. Di situlah letak kenikmatannya.
Kenapa Tengkleng Sangat Identik dengan Solo?
Menariknya,
daerah lain juga memiliki olahan kambing.
Namun
tengkleng berkembang sangat kuat di Solo karena beberapa faktor.
1. Dekat dengan Budaya Pasar dan Keraton
Sejak
dulu Solo memiliki aktivitas perdagangan kambing yang cukup besar.
Pasar-pasar
tradisional menjadi pusat distribusi ternak.
Di sisi
lain budaya kuliner masyarakat Solo terkenal kreatif dalam mengolah bahan
makanan sederhana menjadi hidangan bernilai tinggi.
2. Cocok dengan Karakter Kuliner Solo
Kuliner
Solo umumnya terkenal gurih, kaya rempah, tetapi tidak terlalu pedas.
Karakter
ini sangat cocok dengan tengkleng.
3. Wisata Kuliner yang Terus Berkembang
Ketika
wisata kuliner Solo mulai populer, tengkleng menjadi salah satu menu yang
paling sering direkomendasikan wisatawan.
Banyak
orang datang ke Solo khusus untuk mencoba tengkleng legendaris.
Apa Bedanya Tengkleng dan Gulai?
Banyak
wisatawan luar kota sering mengira keduanya sama. Padahal berbeda.
Tengkleng
- Dominan tulang dan bagian
kambing yang menempel.
- Kuah lebih encer.
- Rempah terasa kuat.
- Sensasi mengisap tulang
menjadi daya tarik utama.
Gulai Kambing
- Lebih banyak potongan
daging.
- Kuah lebih kental.
- Santan lebih dominan.
Karena
itu penggemar tengkleng biasanya memiliki pengalaman makan yang berbeda
dibanding menikmati gulai biasa.
5 Tengkleng Legendaris yang
Wajib Dicoba di Solo Raya
1. Tengkleng Klewer Bu Edi
Jika
membahas tengkleng Solo, nama ini hampir selalu muncul pertama.
Warung
sederhana yang berada di sekitar Pasar Klewer ini sudah menjadi legenda.
Banyak
wisatawan rela antre panjang hanya untuk mendapatkan seporsi tengklengnya.
Keunggulannya
ada pada kuah yang kaya rasa dan potongan tulang yang melimpah.
2. Tengkleng Rica Pak Manto
Tempat
ini terkenal karena menghadirkan tengkleng dengan sentuhan rica yang lebih
kuat.
Cocok
bagi pecinta rasa gurih sekaligus sedikit pedas.
Selain
tengkleng, sate buntelnya juga sangat terkenal.
3. Tengkleng Solo Bu Jito Dlidir
Salah
satu nama yang cukup lama dikenal pencinta kuliner kambing di Solo.
Kuahnya
cenderung lebih ringan tetapi tetap kaya rempah.
Sering
menjadi tujuan wisata kuliner keluarga.
4. Warung Tengkleng Mbak Diah
Menjadi
favorit banyak wisatawan yang berkunjung ke kawasan lereng Lawu.
Porsinya
cukup besar dan suasana tempat makannya nyaman.
5. Tengkleng Pak Nardi
Salah
satu nama yang cukup sering direkomendasikan warga lokal.
Cita rasa
tradisionalnya masih dipertahankan sehingga terasa dekat dengan karakter
tengkleng Solo tempo dulu.
Kenapa Tengkleng Tetap Bertahan di Tengah Banyak
Kuliner Modern?
Jawabannya
sederhana. Karena tengkleng bukan hanya makanan. Ia adalah cerita.
Cerita
tentang kreativitas masyarakat yang mampu mengubah bahan sederhana menjadi
hidangan istimewa.
Cerita
tentang budaya kuliner Solo yang tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari
kecerdikan dan ketekunan.
Di tengah
menjamurnya makanan modern, tengkleng tetap memiliki tempat tersendiri. Bukan
karena tampil mewah. Tetapi karena setiap kuah dan tulangnya menyimpan jejak
sejarah panjang Kota Solo.
Dan
mungkin itulah alasan mengapa hingga hari ini, ketika orang menyebut kuliner
Solo, nama tengkleng hampir selalu ikut disebut bersama Kota Bengawan.(*)




Post a Comment