Header Ads

Inilah Dua Cara 'Ekstrem' Memacu Produksi Anakan pada Aglaonema

DOK. KABARESOLO - Ag. lucia yang dirawat mendapatkan penyinaran baik saat pagi hasilnya sudah tumbuh dua anakan.


KABARESOLO.COM - Setiap penghobi ingin mendapatkan 'generasi' baru pada koleksi aglaonema miliknya.

Semakin banyak perbanyakan tentu semakin menguntungkan, entah jadi modal untuk mendapatkan bibit unggul jawara kontes aglaonema atau nantinya bisa dijual kembali, Minggu 25 Oktober 2020.

Lalu bagaimana cara memperbanyak aglaonema, ada banyak cara mulai dari yang aman yakni menunggu anakan secara normal, yakni terus berikan nutrisi, air dan cahaya yang sesuai untuk pertumbuhan yang optimal.

Ada juga cara dengan merunduk atau cangkok, KabareSolo.com pernah mengupas hal ini.

BACA: Teknik Paling Aman: Perbanyakan Aglaonema dengan Cangkok dan Merundukkan Batang

DOK. KABARESOLO - Ini teknik merundukkan batang, yakni batang dipendam di media tanam, setelah tumbuh tunas, daun dan akar baru bisa dipisahkan. Pada foto inisudah proses adaptasi, daun mulai menjulang ke atas pertanda tanaman sudah sehat.

Cara ini dinilai paling aman karena pemisahan dilakukan setelah tumbuh daun dan akar.

Sedangkan cara yang paling enggak aman sebenarnya mencacah bonggol.

Teknik ini biasanya dilakukan untuk penyelamatan, ketika ada akar yang busuk, atau terjadi spot merah di dalam batang.

Spot merah seperti kanker yang demikian cepat menyebar, belum ada obatnya, cara satu-satunya hanya membuang spot merah baik dengan dipotong atau diiris pada bagian spot merah.

Lalu disungkup, KabareSolo.com pernah mencoba dengan sungkup praktis yakni gunakan toples.

SIMAK: Cara Mudah Tumbuhkan Tunas Pada Bonggol Aglaonema Pakai Toples Murah Meriah


Cara ini tentu besar risikonya terutama kalau media tanam atau toples yang digunakan tidak steril.

DOK. KABARESOLO - Contoh penggunaan toples untuk menumbuhkan tunas, daun hingga akar yang sudah mulai menunjukkan keberhasilan. Ditunggu hingga dua taua tiga daun baru dipindah ke pot.


Bila terpaksa dilakukan seperti ini pastikan media tanam, toples yang digunakan dan bonggol sudah steril sehingga tak terserang busuk batang saat ditumbuhkan tunas dan akar.

DUA CARA EKSTREM

Lalu bagaimana dengan teknik memacu produksi anakan?

Ada dua cara ekstrem yang diketahui dan pernah dilakukan para hobiis.

1. POTONG BONGGOL BAWAH

Cara untuk memacu produksi anakan dengan cara ekstrem pertama yakni memotong bonggol.

Tentu memotong atau melukai tanaman ini bukannya tanpa risiko justru memiliki risiko tinggi, terutama kemungkinan tanaman bisa terserang penyakit.

Trubus Info Kit Vol.06 terbit April 2009 mengupas terkait hal ini.

Melalui buku yang berjudul 'Aglaonema Teknik Baru, Peluang Baru' tersebut memang menyajikan hal yang benar-benar berbeda berdasarkan pengalaman unik para hobiis.

Memotong bonggol ini merupakan teknik perbanyakan yang paling populer di kalangan pekebun komersial.

Menggunakan cara potong bonggol ini pekebun bisa mendapatkan anakan banyak dalam waktu lebih singkat.

Modal yang digunakan yakni aglaonema unggul berdaun minimal 8 - 10 lembar tapi umumnya 12 - 15 lembar.

Caranya yakni dengan memotong batang/bonggol dengan menyertakan 2 - 3 ruas di bawah media yang memiliki mata tunas dan sejumlah akar.

Mata tunas dan akar minimal 2 - 3 lembar.

Dengan adanya akar maka tanaman mampu menyerap hara dan mengolahnya menjadi energi.

Hasilnya tanaman mampu memproduksi akar dan tunas lebih baik lagi.

Teknik ini tak berbeda dengan potong setek, bedanya batang utama tidak dipotong melainkan ditanam di media.

Karena akar sedikit masukkan tanaman pada kantung plastik (sungkup) nah kalau memiliki toples besar bisa digunakan toples seperti artikel yang di tulis di atas.

Lalu taruh di tempat teduh.

Pada minggu ke delapan tanaman bisa dipotong kembali dengan menyertakan 2 - 3 lembar akar.

Sementara bonggol yang tersisa masih dapat memproduksi nutrisi karena tetap mampu menyerap hara dan mengolahnya menjadi energi.

Bonggol juga merupakan cadangan makanan yang bermanfaat untuk pertumbuhan awal.

Setelah memiliki 3 - 5 daun anakan dipotong.

Anakan bisa dipindahtanamkan ke pot dan media tanam baru.

Idealnya bonggol hanya ditumbuhkan dua kali untuk menghasilkan anakan, selanjutnya bonggol dibongkar lalu dibuang akar-akarnya dan dipotong menjadi beberapa setek. Tanam seperti setek mini tanpa daun atau bisa gunakan cara masukkan ke toples.

2. MENJEMUR AGLAONEMA

Masih dalam buku Trubus Info Kit Vol. 06 disebutkan pada halaman 171 yakni artikel yang unik berjudul, Kekuatan Cahaya Munculkan 15 Anakan.

Dalam artikel tersebut pertengahan Agustus 2008 diceritakan Ag. Reanita berdaun 8 sudah berpindah tangan dari seorang kolektor ke Songgo Tjahaja.

Songgo Tjahaja merupakan hobiis sekaligus pembudidaya aglaonema ternama.

Dalam artikel tersebut disampaikan kalau Songgo mengeluh aglaonema yang telah ia rawat di Pekanbaru, Riau tak pernah beranak.

Reanita memang disebut sebagai silangan Greg Hambali yang dinilai sulit untuk beranak, penyebabnya yakni karakter daun berwarna dominan merah.

Untuk bertahan hidup saja butuh penanganan ekstra apalagi beranak.

Warna merah memang cenderung pelit klorofil sehingga laju fotosintesis rendah.

Namun akhirnya 8 bulan berselang Songgo berhasil membuat Reanita beranak 4 dengan teknik rahasia yakni dijemur dan disiram.

Cara yang dlakukan Songgo seperti pada artikel di buku tersebut sangat ekstrem, ia melakukan hal aneh yang biasanya dihindari oleh pembudidaya.

Aglaonema dikenal tak bisa kena sinar matahari langsung, eh ini justru dikenai sinar matahari secara langsung.
Songgomerangsang Ag. reanita beranak dengan cara tak lazim yakni mengangkat pot ke halaman dan membiarkan terpapar sinar matahari langsung selama 4 hari.

Penjemuran dilakukan pada pukul 08.00 - 12.00 WIB.

Tentu saja warna reanita pudar, tapi hasilnya 4 anakan muncul setelah dua bulan berselang.

Cara sama dia lakukan pada sexy pink dan Songgo berhasil merangsang aglaonema ini sampai 15 anakan.

Namun bukan hanya dijemur saja, Songgo melakukan penyiraman dengan sprinkle atau pengabutan ke seluruh bagian tanaman ketika daun terasa panas.

Dalam buku tersebut Ir Edhi Sandra pakar fisiologi tumbhan dari IPB menjelaskan kalau teknik tersebut sah dilakukan.

Paparan cahaya matahari langsung membuat proses transpirasi (penguapan) optimal.

Berbarengan dengan itu pengangkutan nutrisi dari akar ke daun terdongkrak.

Ujung-ujungnya proses fotosintesis di daun untuk menghasilkan karbohidrat yang dipakai tanaman tumbuh termasuk untuk menghasilkan tanaman bisa maksimal.

Cara Songgo ditiru oleh Gatot Purwoko kolektor di Cireundeu, Jakarta Selatan sukses memunculkan anakan pada adelia sebanyak 11 anakan dan ariana 9 anakan.

Namun berdasarkan pengalaman hanya silangan Greg Hambali indukan A. rotundum dan A. commutatum tricolor yang tahan untuk teknik perbanyakan jemur dan disiram ini.

Aglaonema silangan asal Thailand seperti Cochin tak tahan teknik ini.

Jadi mana cara yang akan Anda gunakan? Berani gunakan dua cara eksterm ini?

Selamat mencoba semoga berhasil. (KabareSolo.com/Rimawan Prasetiyo)



Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.