Header Ads

Cara Cerdas Walikota Buta Huruf 'Membungkam' Bawahan Terpelajar Congkak yang Meremehkannya

IST - Ilustrasi stempel kerajaan era dinasti di Tiongkok.


Atasan yang diremehkan bawahannya karena latar belakang pendidikan ternyata sudah ada sejak zaman dulu. Kisah di masa Tiongkok kuno tepatnya era Tiga Kerajaan 220 sampai 280 ini jadi pelajaran berharga. Walikota buta huruf ini sukses mengatasi hal ini.

KABARESOLO.COM - Kisah nyata dari masa lalu ini bisa menjadi pelajaran berharga terutama bagi para bawahan yang merasa lebih pintar dari atasannya dan cenderung meremehkan.

Siapapun yang terpilih menjadi atasan kita di sebuah pekerjaan meskipun kita merasa ia tak pantas tetap harus dihargai dan dihormati bagaimanapun orang tersebut telah melewati proses panjang berada di posisi tersebut.

Sebuah kisah nyata yang dirangkum oleh Walton C Lee dalam bukunya Wisdoms Way bisa jadi contoh berharga.

Dalam kisah ini ada seorang yang buta huruf dan diremehkan oleh bawahan-bawahannya yang terpelajar dan congkak.

Namun waktu yang menjawab, si walikota sukses beradu kecerdasan dengan para ajudannya yang berpendidikan.

Dikisahkan seorang Letnan Kolonel Hwang Gai di Negara Wu yang menduduki sebagian besar dari daerah di Cina Selatan ditugaskan menjadi walikota di sebuah kota kecil.

Pejabat-pejabat setempat di kota tersebut dikenal memiliki pendidikan tinggi dan populer dengan sikap angkuh mereka terhadap para atasan-atasan mereka.

Mereka selalu memandang rendah dan jarang menaruh hormat kepada kepala eksekutif mereka.

Nah ini menjadi tantangan yang berat bagi Letnan Kolonel Hwang Gai yang buta huruf untuk bisa memimpin mereka dengan baik.

Berikut kisahnya.

Setelah menerima jabatan walikota, letnan kolonel ini segera mengumpulkan semua bawahannya yang angkuh dan mengusulkan supaya mereka mengangkat dua wakil walikota dari antara mereka.

Perintah ini dilaksanakan dengan senang hati dan dua pejabat dipilih.

Walikota itu kemudian menerbitkan sebuah pengumuman yang isinya sebagai berikut:

"Meskipun saya seorang walikota, anda semua tahu bahwa saya adalah seorang militer. Saya memperoleh posisi ini karena ketrampilan saya di medan perang, oleh sebab itu saya tak tahu menahu mengenai cara mengatur rakyat. Ada beberapa orang jalanan yang mengganggu beberapa bagian daerah saya akan secara pribadi tangani. Kedua wakil walikota dapat mengatasi masalah-masalah setempat bagi saya. Mereka juga dapat mennandatangani dokumen-dokumen apapun atas nama saya. Namun apabila mereka menyalahgunakan hak istimewa ini mereka akan dihukum sesuai dengan unadng-undang."

Setelah membaca pengumuman yang di luar kebiasaan itu mereka pun menjaga tingkah laku mereka.

Namun bagaimanapun karena kurangnya pengawasan dan merasa jijik terhadap atasan mereka yang berpendidikan rendah, sedikit demi sedikit mereka melonggarkan kebijaksanaan mereka dan mulai menangani perkara hukum dengan keliru.

Mereka juga memanipulasi urusan-urusan setempat untuk keuntungan mereka sendiri.

"Lagip[ula siapa yang peduli pada walikota buta huruf," demikian cemooh mereka.

Namun sikap mereka ini justru jadi jurang yang mencelakakan diri sendiri karena secara diam-diam walikota ini memerintahkan beberapa orang kepercayaannya memantau kedua wakilnya dan mengumpulkan bukti dari setiap kesalahan yang dilakukan.

Dalam beberapa minggu setelah berhasil mengumpulkan bukti-bukti nyata mengenai kelakuan yang tidak pantas dari kedua wakilnya ini, walikota yang cerdik mengumpulkan semua bawahannya dan menunjukkan bukti-bukti tersebut.

Mereka merasa terkejut dan merasa sangat malu, kedua wakil itu akhirnya bersujud memohon belas kasihan.

"Oh tidak, kali ini tidak karena saya telah memperingatkan kamu secara tertulis lewat pengumuman dan semua orang telah tahu," ujar si walikota.

Kedua wakil walikota dituntut dengan tuduhan menerima suap, penggelapan dan ketidakcakapan.

Kejahatan-kejahatan mereka terbukti tanpa diragukan dan sesuai hukum yang berlaku mereka dijatuhi hukuman mati.

Para bawahan lainnya kaget dan gemetar dua wakil walikota kembali dipilih untuk mengatasi masalah-masalah setempat dan setelah ini semua urusan berjalan dengan baik dan tak ada yang berani menganggu walikota buta huruf lagi. (*/KabareSolo.com)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.