Header Ads

Berawal dari Rasa Syukur Habis Panen Festival Gandrung Sewu Digelar Hari Ini di Banyuwangi

TROPENMUSEUM/SITUS PEMKAB BANYUWANGI - Tarian Gandrung yang didokumentasikan antara tahun 1910-1930 dan menjadi koleksi Tropenmuseum dan foto insert Festival Gandrung Sewu yang sebelumnya telah digelar 7 kali.

KABARESOLO.COM, BANYUWANGI - Festival Gandrung Sewu digelar hari ini di Kabupaten Banyuwangi, Sabtu 20 Oktober 2018.

Festival Gandrung Sewu 2018 merupakan kali kedelapan setelah sebelumnya telah digelar sejak tahun 2011.

Mengutip Wikipedia Tarian Gandrung Banyuwangi ini awalnya merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat sehabis panen.

Tropenmuseum yang berlokasi di Amsterdam Belanda memiliki sebuah foto penari gandrung beserta gamelannya yang difoto sekitar tahin 1910-1930.

Tarian Gandrung merupakan seni pertunjukan tari dengan iringan musik khas gamelan osing..

Tarian dalam bentuk berpasangan antara perempuan yakni penari gandrung dan laki-laki yang disebut pemaju atau dikenal sebagai paju.

Melalui situs resmi Pemkab Banyuwangi Kepala Dinas Pariwisata MY Bramuda menyampaikan kalai Festival Gandrung Sewu yakni Penari Gandrung yang berjumlah seribuan orang ini telah mampu menggerakkan perekonomian lokal.

“Alhamdulillah, selama ini Festival Gandrung Sewu telah disambut antusias oleh wisatawan. Dan ini berdampak positif ke ekonomi lokal, ada ribuan warga yang menerima berkah ekonominya, mulai warung, jasa transportasi, restoran, homestay, hotel, sampai UMKM produsen oleh-oleh,” ujar Bramuda seperti dikutip dari situs resmi Pemkab Banyuwangi.

Ia menambahkan acara ini mampu mendatangkan ribuan wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara dan langsung menambah pendapatan warga Banyuwangi.

Tari Gandrung sendiri menurutnya merupakan tari khas daerah yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Bukan Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Di masa kolonialisme, Tari Gandrung bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari taktik untuk melawan penjajahan.

FRAGMEN LAYAR KUMENDUNG

Sementara itu terkait pelaksanaan festival, di tahun ini Gandrung Sewu menganggkat tema 'Layar Kumendung'.

Penonton tidak hanya akan menyaksikan kemegahan tarian, tapi juga fragmen drama kepahlawanan yang menyertainya.

Pertunjukan ini melibatkan sebanyak 1173 penari, 64 penampil fragmen, dan 65 pemusik.

“Di pertunjukkan ini koreografi tarian akan diselingi dengan fragmen drama Layar Kumendung dengan perbandingan 70 persen tarian dan 30 persen fragmen. Dijamin pertunjukan Gandrung Sewu akan semakin menarik,” ujar Bramuda.

Tema Layar Kumendung merupakan salah satu judul tembang yang menjadi pengiring pada tari Gandrung. Tema ini masih berkaitan dengan tema di tahun-tahun sebelumnya yang juga mengangkat gending-gending pengiring Gandrung seperti Podo Nonton, Seblang Lukinto, dan Kembang Pepe.

Tema Layar Kumendung yang diangkat pada tahun ini, lanjut Bramuda, akan menampilkan kisah heroisme Bupati pertama Banyuwangi Raden Mas Alit dalam menentang pendudukan VOC Belanda.

Meski kemudian Raden Mas Alit harus gugur dalam sebuah ekspedisi pelayaran (Layar) hingga menyebabkan kesedihan (Kumendung) bagi rakyat Banyuwangi.

“Kisah kepahlawanan itu dikemas dalam fragmen menarik, sehingga pertunjukan ini tidak sekadar peristiwa seni dan budaya, tapi juga menjadi media untuk kembali mengingat sejarah pahlawan yang telah berjasa bagi daerah ini. Sehingga kita bisa terus mencintai daerah ini serta tergerak untuk memajukannya,” ujar Bramuda.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebelum dimulai acara akan dilakukan santunan kepada anak yatim dan warga kurang mampu untuk menyampaikan pesan solidaritas agar semua saling membantu. (*/KabareSolo.com)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.