Header Ads

Cerita Sri Penyandang Difabel yang Siapkan Rajutan Terbaik untuk Difa Shop

KABARESOLO.COM/ROBERTUS RIMAWAN - Launching Difa Shop sukses, harapan baru bagi para difabel untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. MAri bantu mereka, unduh dan download aplikasi dan belanja di toko mereka.

"Dulu saya pernah merasa terpuruk tapi saya belajar ketemu teman-teman pengin seperti mereka,  tak menyerah dan belajar agar bisa bermanfaat."

KABARESOLO.COM - Sepenggal kalimat keluar dari Sri Paryani (54).

Meski usia tak lagi muda tapi binar semangatnya tampak menyala, pagi itu Senin (20/8/2018) di Pendhapi Balaikota Solo .

Wanita yang sejak kecil mengalami kelumpuhan karena infeksi virus RNA atau sering disebut sebagai polio ini pernah membuatnya putus asa.

Namun itu masa lalu, bergulirnya waktu ia adalah Sri yang berbeda, Sri yang mandiri dan penuh optimisme.

Senantiasa berpikir akan karya-karya terbaru yang bisa ia buat untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan sang ibunda tercinta.

Warga RT 4 RW 5, Debegan, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah ini merupakan satu dari puluhan orang yang memiliki kondisi berbeda.

Ada yang menggunakan kursi roda, ada yang berjalan tertatih dengan tongkat penyangga tubuh, sementara di bagian lain beberapa orang berupaya bercakap-cakap dengan bahasa isyarat.

Mereka berkumpul karena sebuah tempat baru, tempat bagi mereka yang memiliki kondisi berbeda mengumpulkan karya yang bisa dibeli masyarakat.

Tempat baru ini adalah Difa Shop, sebuah toko online dengan aplikasi yang bisa diunduh di Play Store atau App Store.

Toko online yang mengumpulkan karya dan jasa kaum difabel agar dengan mudah bisa diakses oleh masyarakat dan bisa menutup kebutuhan hidup mereka.

Pagi itu Difa Shop diluncurkan dan jadi harapan baru satu di antaranya untuk Sri.

Sri memiliki keahlian permak baju, ia punya mesin jahit dan baru-baru ini ia telah belajar bordir.
Sri juga memiliki mesin khusus bordir.

Meski demikian ia juga memiliki keahlian menyulam dan merajut.

Ia sudah biasa merajut tempat tisu atau rajutan khusus untuk telur paskah.

Dengan menggunakan benang wol ia bisa membuat rajutan cantik dengan pola tertentu seperti bunga atau paduan warna-warni benang wol sehingga menjadi tempat telur paskah yang menawan.

Ia juga bisa membuat bentuk seperti ayam dengan tambahan monte atau mata.

Selama ini produknya laris dan dipesan di gereja tempat ia beribadah.

Selain produk tersebut, Sri juga mahir membuat bros dari kain perca dengan bentuk bunga.

"Saya akan menyiapkan rajutan terbaik dan bisa dijual melalui Difa Shop, semoga bisa menjadi pilihan baru dalam mencari rezeki," imbuhnya.

Sri merupakan satu di antara puluhan warga dengan kondisi berbeda.

Pagi itu suasana memang tampak semarak.

Spanduk besar bertuliskan peluncuran produk dipasang di tengah.

Wajah-wajah yang semringah, bercanda atau justru bercakap serius serta tatapan rindu terlihat di antara mereka.

Mereka adalah kaum difabel Kota Solo yang tak setiap hari bisa berkumpul.

Dan acara ini mempertemukan mereka, mempertemukan rekan-rekan lama atau orang-orang baru yang akhirnya bisa saling berkomunikasi.

KABARESOLO.COM/ROBERTUS RIMAWAN - Sri Paryani seorang penyandang difabel yang siapkan produk terbaik untuk Difa Shop.


LAUNCHING DIFA SHOP

Difa Shop, sebuah toko online untuk mempertemukan karya dan jasa para penyandang difabel, diluncurkan.

Heru Sasongko dari Difa Sukses Mandiri (DSM) merupakan salah satu motor terbentuknya platform Toko Online Difa Shop ini menjelaskan latar belakang kondisi kaum difabel.

Ia mengatakan selama ini kaum difabel harus sering mengalami kesulitan dalam bekerja dan beraktivitas ditambah lagi dengan kondisi perekonomian yang buruk.

Maka diciptakan aplikasi Difa Shop untuk memudahkan warga Kota Solo untuk berbagi.

Menurutnya difabel tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga membutuhkan bantuan warga.

Dengan adanya Difa Shop warga bisa berbagi dengan belanja di Difa Shop, ada sembako, ada barang kebutuhan sehari-hari, ada baju, barang elektronik, produk karya seni, jasa menjahit, jasa service barang elektronik hingga agen pegadaian.

"Tahap pertama melalui aplikasi ada toko-toko kaum difabel yang terdata 50 difabel padahal di Kota Solo ada seribu nanti akan ditingkatkan," jelasnya.

Melalui aplikasi Difa Shop memudahkan warga untuk berbagi dengan membeli atau menggunakan jasa kaum difabel.

Jadi dengan menggunakan aplikasi Difa Shop, warga dimudahkan untuk menuju lokasi terdekat kaum difabel yang menyediakan barang atau jasa yang dibutuhkan.

KABARESOLO.COM/ROBERTUS RIMAWAN - Heru Sasongko (baju batik bawa buku) seusai berikan sambutan dalam launching Difa Shop.


"Kami tidak meminta belas kasihan, kami tidak meminta sumbangan cuma-cuma, kami tidak mengambil rezeki orang lain, maka cukup membeli gula satu kilogram sudah sangat membantu," ujar Heru Sasongko.

Ia pun meminta agar Wali Kota Solo di tiap acara yang bersentuhan langsung dengan masyarakat membantu untuk mempromosikan Difa Shop.

Difa Shop sukses diluncurkan tinggal butuh kerelaan kita untuk berbagi dengan unduh dan instal aplikasi dan belanja di toko atau memanfaatkan jasa mereka.

Tunggu tulisan selanjutnya masih seputar hal menarik launching Difa Shop.

Mari berbagi dan bantu saudara kita kaum difabel. (KabareSolo.com/Robertus Rimawan Prasetiyo)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.