Header Ads

Jadi Buruan Warga! Ini Lima Kuliner Nostalgia Solo yang Rasanya Tak Pernah Berubah

 

IST - Lima kuliner nostalgia yang wajib dicoba kalau ke Solo.

KABARESOLO.COM – Baru saja ngobrol dengan teman asli Solo, ia cerita tentang kuliner nostalgia masa kecilnya dulu, Kamis 15 Juli 2026.

"Saya masih ingat, ibu selalu menggenggam tangan saya menyusuri Pasar Gede. Tujuannya bukan pusat perbelanjaan, bukan pula mal. Kami hanya ingin semangkuk timlo hangat," kata Anwar (38) seorang karyawan perusahaan otomotif yang kini menetap di Jakarta.

Bertahun-tahun berlalu. Kota Solo berubah. Gedung-gedung baru bermunculan, kafe kekinian memenuhi sudut kota, dan makanan viral silih berganti muncul di media sosial.

Namun, ada satu hal yang tetap bertahan adalah rasa. Ia kemudian menyebutkan 5 kuliner nostalgia masa kecilnya yang masih ingat sampai saat ini.

Bukan sekadar rasa di lidah, tetapi rasa yang membawa pulang kenangan. Kenangan tentang masa kecil, tentang keluarga, tentang kota yang selalu membuat orang ingin kembali, termasuk ayah dua anak ini.

Jika Anda sedang berkunjung ke Solo, atau bahkan warga asli yang mulai rindu masakan tempo dulu, berikut lima kuliner rekomendasi Anwar bagaikan  "mesin waktu" yang bisa membawa Anda kembali ke masa-masa indah.

1. Timlo Sastro, Semangkuk Kehangatan Sejak 1952

Pagi di Solo rasanya belum lengkap tanpa semangkuk timlo.

Kuah bening yang gurih, sosis Solo, suwiran ayam, telur pindang, dan ati ampela berpadu dalam satu mangkuk yang sederhana tetapi penuh cerita.

Warung Timlo Sastro telah melayani pelanggan lintas generasi selama puluhan tahun dan tetap menjadi salah satu ikon kuliner Solo. Banyak wisatawan sengaja datang pagi agar tidak kehabisan.

Kenapa wajib dicoba?

Karena setiap sendoknya terasa seperti sarapan di rumah nenek.

2. Nasi Liwet Wongso Lemu, Aroma Santan yang Tak Pernah Hilang

Saat senja mulai turun, aroma santan mulai memenuhi kawasan Keprabon.

Di sinilah banyak warga Solo memulai tradisi makan malam sejak puluhan tahun silam.

Sepiring nasi gurih disiram areh kental, ditemani ayam suwir, telur pindang, sayur labu siam, dan sedikit sambal. Tidak mewah, tetapi selalu membuat orang ingin kembali.

Nasi Liwet Wongso Lemu telah menjadi salah satu ikon kuliner malam Solo dan terus menjadi tujuan wisatawan dari berbagai daerah.

3. Serabi Notosuman, Oleh-Oleh yang Selalu Diburu

Ada satu pemandangan yang hampir selalu sama setiap akhir pekan.

Orang-orang rela mengantre membawa kotak hijau berisi serabi hangat.

Serabi Notosuman bukan sekadar jajanan.

Teksturnya lembut, pinggirannya renyah, aroma santannya begitu khas. Bahkan banyak warga Solo yang mengaku belum sah pulang kampung kalau belum membawa serabi ini untuk keluarga.

Kini tersedia varian original maupun cokelat, tetapi resep tradisionalnya tetap dipertahankan.

4. Sate Kere, Bukti Bahwa Kesederhanaan Bisa Melegenda

Namanya memang "kere", yang dalam bahasa Jawa berarti miskin.

Dulu makanan ini lahir karena harga daging terlalu mahal.

Sebagai gantinya, masyarakat menggunakan tempe gembus, jeroan, hingga kikil yang dibumbui lalu dibakar di atas arang.

Siapa sangka, makanan rakyat itu kini justru menjadi salah satu kuliner yang paling dicari wisatawan.

Asap pembakaran, bumbu kacang yang kental, dan aroma khas arang membuat sate kere memiliki karakter yang sulit ditemukan di kota lain. Kuliner ini bahkan kerap disebut sebagai salah satu ikon Solo dalam berbagai liputan wisata.

5. Tengkleng Bu Edi, Antre Panjang Demi Semangkuk Tulang Kambing

Kalau ada satu kuliner yang mampu membuat orang rela berdiri mengantre, jawabannya adalah tengkleng.

Di bawah rindangnya area sekitar Pasar Klewer, aroma rempah menyeruak dari panci besar yang terus mengepul.

Sepintas hanya tulang kambing.

Namun ketika kuah gurih meresap ke sela-sela daging, barulah orang mengerti mengapa tempat ini tak pernah sepi.

Wisatawan dari Jakarta, Surabaya, Bandung hingga mancanegara sering memasukkan Tengkleng Bu Edi ke dalam daftar wajib saat berkunjung ke Solo.

Bukan Sekadar Makanan, Tapi Warisan Kota

Yang membuat lima kuliner ini istimewa bukan hanya rasa.

Melainkan cerita di baliknya.

Ada resep yang diwariskan lintas generasi.

Ada penjual yang tetap memasak dengan cara tradisional.

Ada pelanggan yang kini datang membawa anak dan cucunya ke tempat yang sama seperti puluhan tahun lalu.

Di tengah gempuran makanan viral dan tren kuliner yang datang silih berganti, kuliner-kuliner nostalgia ini membuktikan satu hal.

Rasa yang dibuat dengan hati tidak pernah benar-benar ditinggalkan zaman.

Jadi, jika suatu hari Anda berada di Solo, jangan hanya mencari tempat makan yang sedang viral.

Carilah tempat yang membuat orang berkata, "Dari dulu rasanya memang seperti ini."

Karena di situlah, sesungguhnya, Anda sedang mencicipi sejarah Kota Solo. (KabareSolo.com/Rimawan)

 

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.