5 Usaha Modal Kecil tapi Bisa Hasilkan Banyak Uang di Kota Solo
![]() |
| IST - Lima usaha modal kecil berpotensi penghasilan besar. |
KABARESOLO.COM – Ada satu kalimat yang mungkin sering terdengar ketika seseorang ingin memulai usaha.
“Saya sebenarnya ingin punya bisnis, tetapi modalnya belum cukup.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya sering ada banyak cerita. Ada seorang karyawan yang setiap bulan berusaha menyisihkan sebagian gajinya, tetapi selalu habis untuk kebutuhan rumah tangga. Ada anak muda yang memiliki kemampuan tertentu, tetapi tidak tahu bagaimana mengubahnya menjadi sumber penghasilan. Ada pula ibu rumah tangga yang sebenarnya pandai memasak, membuat kerajinan, merawat tanaman, atau menjual sesuatu, tetapi merasa bahwa membangun usaha membutuhkan modal besar dan tempat yang mahal.
Padahal, sering kali persoalan terbesar dalam memulai bisnis bukan semata-mata soal seberapa besar modal yang dimiliki. Persoalan yang jauh lebih penting adalah seberapa baik seseorang membaca kebutuhan di sekitarnya. Sebab, bisnis pada dasarnya bukan hanya tentang menjual barang. Bisnis adalah tentang menemukan masalah yang dialami orang lain, kemudian menawarkan solusi yang membuat mereka bersedia membayar.
Di Kota Solo, peluang seperti itu sebenarnya tumbuh di banyak tempat. Di balik warung makan, kampus, kawasan wisata, perkantoran, event, pasar tradisional, perumahan, hingga ribuan pelaku UMKM yang sedang berusaha bertahan di tengah persaingan digital. Perekonomian Kota Surakarta pada 2025 tumbuh 5,63 persen, sementara sektor informasi dan komunikasi menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 11,29 persen. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 4,80 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Solo terus bergerak, dan di dalam pergerakan itulah peluang-peluang kecil sebenarnya muncul.
Namun, tentu saja, kita harus berhati-hati dengan kalimat “modal kecil bisa menghasilkan banyak uang.” Tidak ada usaha yang secara otomatis membuat seseorang kaya. Tidak ada bisnis yang menjamin omzet besar hanya karena seseorang membeli peralatan dan membuka akun media sosial. Modal kecil hanya berarti pintu masuknya lebih ringan. Setelah itu, masih ada kerja keras, kemampuan membaca pasar, pelayanan, pengelolaan uang, konsistensi, dan kemampuan untuk terus beradaptasi.
Lalu, usaha apa yang sebenarnya memiliki peluang untuk dimulai dari skala kecil di Kota Solo?
Ketika UMKM Solo Punya Produk Bagus, Tetapi Tidak Punya Waktu untuk Bercerita
Coba bayangkan seorang pemilik warung makan di Solo. Sejak pagi ia sudah berada di pasar untuk membeli bahan. Setelah itu ia memasak, menyiapkan dagangan, melayani pelanggan, mencuci peralatan, menghitung pemasukan, membeli stok, dan mungkin baru bisa beristirahat ketika hari sudah malam. Di sisi lain, dunia telah berubah. Calon pelanggan tidak lagi hanya mencari makanan dengan berjalan kaki melewati depan warung. Mereka melihat Instagram, TikTok, Facebook, Google, dan berbagai platform digital lainnya sebelum memutuskan akan membeli sesuatu.
Masalahnya, pemilik warung tersebut mungkin tidak memiliki waktu untuk membuat video. Ia mungkin tidak tahu cara mengambil foto makanan yang menarik. Ia mungkin tidak mengerti mengapa sebuah video bisa ditonton ribuan orang sementara video lainnya hanya dilihat beberapa puluh orang. Dan yang paling penting, ia mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk mempelajari semuanya dari awal.
Di sinilah peluang usaha pertama muncul: jasa pembuatan konten dan pemasaran digital untuk UMKM.
Seseorang yang memiliki ponsel, kemampuan mengambil gambar, mengedit video, menulis, membuat desain sederhana, atau memahami media sosial sebenarnya sudah memiliki modal awal untuk memulai usaha. Tidak harus langsung membangun agensi besar. Tidak harus memiliki kantor. Bahkan, seseorang bisa memulainya dengan satu pelanggan pertama.
Riset yang dilakukan terhadap UMKM sektor ekonomi kreatif di Kecamatan Laweyan, Surakarta, menemukan bahwa digital marketing memiliki hubungan terhadap volume penjualan, dengan kualitas intellectual capital sebagai salah satu faktor yang turut berperan. Penelitian lain mengenai UMKM di Kota Surakarta juga menemukan bahwa digital marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan bisnis. Artinya, kemampuan digital bukan lagi sekadar pelengkap dalam bisnis, melainkan semakin penting dalam cara UMKM menjangkau pasar.
Namun ada satu hal penting yang sering tidak dipahami oleh orang yang ingin masuk ke bisnis jasa konten. Jangan menjual “jasa membuat video” semata. Jual solusi. Pemilik usaha tidak selalu membutuhkan video yang bagus. Mereka membutuhkan pelanggan. Mereka membutuhkan orang yang membantu membuat produknya lebih dikenal. Mereka membutuhkan seseorang yang bisa mengubah cerita usaha menjadi konten yang membuat calon konsumen berhenti menggulir layar.
Seorang pemula bisa memulai dengan menawarkan paket sederhana kepada satu warung. Misalnya, datang dua kali dalam sebulan, mengambil foto dan video, lalu membuat beberapa konten pendek. Jika hasilnya membantu usaha tersebut mendapatkan lebih banyak perhatian, pelanggan pertama bisa menjadi portofolio. Dari satu warung, muncul rekomendasi ke warung lain. Dari satu toko, muncul pemilik usaha lain yang membutuhkan bantuan serupa.
Yang dijual sebenarnya bukan kamera.
Yang dijual adalah kemampuan membuat sebuah usaha terlihat.
Dan di kota yang memiliki banyak UMKM, peluang ini sangat besar. Sebab, banyak usaha kecil memiliki produk yang bagus, tetapi belum mampu menceritakan dirinya dengan baik.
Dari Dapur Rumah, Pesanan Bisa Datang dari Kantor dan Acara
Di sebuah rumah sederhana, mungkin ada seseorang yang setiap hari memasak dengan kemampuan yang sebenarnya jauh lebih baik daripada yang ia sadari. Masakannya disukai keluarga. Tetangga sering memesan. Teman-teman pernah meminta dibuatkan makanan untuk acara kecil. Namun ketika ditanya mengapa tidak dijadikan bisnis, jawabannya sering sama.
“Modalnya besar kalau harus buka warung.”
Padahal, membuka warung dan menjual makanan adalah dua hal yang berbeda.
Usaha makanan bisa dimulai dengan sistem pre-order. Seseorang tidak perlu memasak dalam jumlah besar sebelum mengetahui siapa pembelinya. Pesanan dikumpulkan terlebih dahulu. Produksi dilakukan berdasarkan jumlah permintaan. Risiko makanan tidak terjual pun bisa ditekan.
Di Solo, peluang semacam ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada kantor yang membutuhkan nasi kotak. Ada komunitas yang mengadakan pertemuan. Ada keluarga yang mengadakan acara. Ada mahasiswa yang membutuhkan makanan praktis. Ada kegiatan sekolah, seminar, pelatihan, hingga berbagai event yang membutuhkan konsumsi.
Solo juga memiliki ekosistem yang kuat antara budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan berbagai aktivitas kota. Penelitian mengenai strategi pengembangan pariwisata berbasis ekonomi kreatif di Surakarta menempatkan kekayaan budaya dan industri kreatif sebagai kekuatan penting yang dapat dikembangkan. Sementara itu, studi mengenai sektor ekonomi kreatif di Surakarta juga mengidentifikasi kuliner sebagai salah satu sektor tematik yang memiliki potensi mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, seseorang yang ingin memulai bisnis makanan tidak harus menjual semuanya. Justru, salah satu kesalahan pemula adalah membuat terlalu banyak menu. Padahal, satu produk yang benar-benar kuat bisa lebih mudah diingat daripada 30 menu yang biasa saja.
Bisa dimulai dari nasi kotak dengan satu menu andalan. Bisa berupa snack box tradisional. Bisa makanan rumahan untuk kantor. Bisa sarapan yang dikirim pagi-pagi. Bisa pula makanan khas yang memiliki cerita dan sulit ditemukan di tempat lain.
Kuncinya bukan sekadar membuat makanan enak. Kuncinya adalah menciptakan alasan agar orang memesan lagi.
Karena dalam bisnis makanan, pelanggan yang kembali jauh lebih berharga daripada pelanggan yang hanya datang sekali. Satu kantor yang memesan 30 kotak setiap minggu dapat menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil daripada puluhan pembeli yang datang secara acak tanpa kepastian.
Di sinilah usaha kecil mulai berubah menjadi bisnis.
Bukan ketika penjualannya ramai satu hari.
Tetapi ketika pelanggan mulai berkata:
“Minggu depan pesan lagi, ya.”
Tidak Semua Usaha yang Menguntungkan Harus Viral
Ada usaha yang tidak pernah masuk FYP, tetapi tetap menghasilkan.
Ada usaha yang tidak memiliki ribuan pengikut, tetapi memiliki pelanggan tetap.
Salah satunya adalah usaha laundry.
Kita sering menganggap laundry sebagai bisnis sederhana. Namun justru kesederhanaannya menjadi kekuatan. Orang membutuhkan pakaian bersih. Mahasiswa membutuhkan layanan praktis. Pekerja tidak selalu memiliki waktu untuk mencuci dan menyetrika. Keluarga yang sibuk sering kali bersedia membayar orang lain untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak sempat mereka lakukan.
Di sinilah peluang ketiga muncul: jasa laundry dengan layanan yang lebih spesifik dan praktis.
Seseorang tidak harus langsung membeli banyak mesin. Ia bisa memulai dari model pengumpulan dan pengantaran. Pakaian pelanggan diambil dari rumah, diproses melalui mitra laundry, kemudian dikembalikan kepada pelanggan. Setelah jumlah pelanggan bertambah, investasi peralatan dapat dilakukan secara bertahap.
Model semacam ini sebenarnya mengajarkan satu prinsip bisnis yang penting: tidak semua bisnis harus dimulai dengan memiliki seluruh aset sendiri.
Yang penting adalah mampu menciptakan nilai.
Pelanggan tidak selalu peduli apakah Anda mencuci menggunakan mesin milik sendiri atau melalui mitra, selama pakaian mereka bersih, wangi, tidak tertukar, dan selesai tepat waktu. Bagi mereka, yang dibeli adalah kenyamanan.
Di sinilah banyak pengusaha pemula bisa belajar. Jangan hanya berpikir tentang barang apa yang harus dibeli. Pikirkan juga proses apa yang bisa Anda sederhanakan bagi orang lain.
Laundry antar-jemput, laundry sepatu, jasa setrika, laundry khusus perlengkapan bayi, atau paket berlangganan untuk penghuni kos merupakan contoh bagaimana usaha sederhana dapat dibuat lebih spesifik.
Yang membuat pelanggan bertahan bukan hanya harga murah. Dalam bisnis jasa, kepercayaan sering kali jauh lebih penting.
Pakaian tidak tertukar.
Tidak hilang.
Tidak rusak.
Selesai sesuai janji.
Dan ketika pelanggan sudah merasa aman, mereka cenderung kembali.
Dalam jangka panjang, pelanggan rutin bisa menjadi fondasi yang lebih kuat daripada mengejar pelanggan baru setiap hari.
Solo Tidak Hanya Menjual Tempat, Tetapi Juga Pengalaman
Ada wisatawan yang datang ke Solo untuk melihat keraton.
Ada yang datang untuk mencari batik.
Ada yang ingin menikmati kuliner.
Ada yang ingin berfoto.
Namun ada pula wisatawan yang sebenarnya ingin sesuatu yang lebih sederhana: ingin merasa menjadi bagian dari kota yang mereka kunjungi.
Mereka ingin tahu di mana warga lokal sarapan. Ingin berjalan di kawasan yang tidak selalu muncul dalam paket wisata. Ingin mengetahui cerita sebuah bangunan tua. Ingin menemukan makanan yang tidak mereka temukan di pusat perbelanjaan. Atau hanya ingin memiliki seseorang yang membantu mereka memahami Solo dengan cara yang lebih personal.
Dari kebutuhan tersebut, muncul peluang usaha keempat: jasa pengalaman wisata dan pendampingan konten.
Seseorang yang mengenal Solo dengan baik dapat menawarkan walking tour sederhana, tur kuliner, pendampingan fotografi, pembuatan konten perjalanan, atau pengalaman menjelajahi kawasan kota dari perspektif lokal.
Penelitian tentang pengembangan pariwisata berbasis ekonomi kreatif di Surakarta menunjukkan bahwa kekuatan budaya, kreativitas, dan potensi lokal merupakan bagian penting dalam pengembangan pariwisata kota. Penelitian lain tentang digitalisasi pemasaran pariwisata juga menekankan pentingnya konten digital dalam membangun brand equity dan mendorong minat kunjungan.
Namun peluang ini tidak berarti seseorang bisa sembarangan membawa wisatawan dan menjual semua jenis layanan tanpa memperhatikan aturan. Jika layanan yang ditawarkan masuk ke ranah usaha perjalanan atau jasa wisata formal, aspek perizinan dan ketentuan yang berlaku tetap harus diperhatikan.
Tetapi secara konsep, peluangnya jelas.
Wisatawan tidak hanya membutuhkan tempat.
Mereka membutuhkan pengalaman.
Dan pengalaman itu sering kali tidak bisa dibeli hanya dengan membuka Google Maps.
Seseorang yang mampu membuat perjalanan wisatawan menjadi lebih berkesan sebenarnya sedang menjual sesuatu yang tidak kasatmata: pengetahuan lokal, cerita, koneksi, dan kemampuan melihat kota dari sudut yang berbeda.
Tanaman yang Hampir Mati Bisa Menjadi Peluang Bisnis
Di sudut sebuah rumah, mungkin ada tanaman yang daunnya menguning. Pemiliknya sudah menyiram setiap hari, tetapi tanaman justru semakin buruk. Ia kemudian bertanya kepada temannya, mencari jawaban di internet, lalu membeli pupuk dan mengganti media tanam.
Tanpa disadari, dari persoalan kecil itu muncul sebuah pasar.
Banyak orang membeli tanaman, tetapi tidak tahu cara merawatnya. Mereka membeli pot, tetapi tidak tahu media tanam yang sesuai. Mereka melihat tanaman sakit, tetapi tidak tahu apakah masalahnya berasal dari akar, air, cahaya, atau hama.
Karena itu, peluang kelima adalah bisnis tanaman hias yang dikembangkan sebagai layanan, bukan sekadar jual beli tanaman.
Seseorang bisa menjual tanaman, pot, media tanam, pupuk, jasa repotting, konsultasi, hingga perawatan tanaman di rumah atau kantor.
Yang menarik dari bisnis ini adalah kemungkinan terjadinya transaksi berulang. Seseorang membeli tanaman hari ini. Beberapa bulan kemudian membutuhkan pot baru. Kemudian membutuhkan media tanam. Setelah itu membeli pupuk. Ketika tanaman bermasalah, ia membutuhkan konsultasi.
Artinya, hubungan antara penjual dan pembeli tidak harus berhenti pada transaksi pertama.
Inilah salah satu prinsip penting dalam bisnis: pelanggan lama sering kali memiliki nilai ekonomi yang lebih besar daripada pelanggan baru.
Studi mengenai potensi sektor ekonomi kreatif di Surakarta menempatkan berbagai sektor berbasis kreativitas, termasuk kerajinan dan produk kreatif, sebagai bidang yang memiliki ruang untuk dikembangkan. Sementara itu, perkembangan ekonomi kota yang ditopang oleh konsumsi dan sektor informasi-komunikasi menunjukkan bahwa bisnis kecil semakin memiliki peluang untuk menggabungkan produk fisik dengan pengetahuan dan layanan digital.
Maka, bisnis tanaman tidak harus selalu menjual tanaman langka yang mahal. Justru pasar yang lebih luas bisa berada pada tanaman untuk pemula, tanaman meja kerja, tanaman indoor, paket tanaman sebagai hadiah, atau jasa menyelamatkan tanaman yang hampir mati.
Orang tidak hanya membeli tanaman.
Mereka membeli harapan agar rumahnya lebih hidup.
Mereka membeli keindahan.
Mereka membeli hobi.
Dan sebagian orang bahkan membeli ketenangan.
Di situlah sebuah tanaman kecil dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada harga jualnya.
Modal Kecil Harus Diikuti dengan Cara Berpikir yang Tepat
Lima usaha tersebut memiliki satu kesamaan. Semuanya dapat dimulai dari skala kecil, tetapi tidak semuanya bisa menghasilkan uang dengan cepat. Ini bagian yang harus dikatakan dengan jujur.
Bisnis bukan mesin uang.
Tidak ada usaha yang otomatis sukses hanya karena sedang tren.
Tidak ada formula yang menjamin seseorang mendapatkan omzet puluhan juta dalam waktu singkat.
Bahkan riset akademik mengenai UMKM di Surakarta menunjukkan bahwa digital marketing, financial literacy, dan financial technology memang dapat berpengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan, tetapi kemampuan tersebut tetap harus diterapkan dalam pengelolaan bisnis yang nyata. Artinya, teknologi hanyalah alat. Ia tidak dapat menggantikan kualitas produk, pelayanan, disiplin keuangan, dan kemampuan memahami pelanggan.
Karena itu, sebelum memulai usaha, seseorang sebaiknya tidak hanya bertanya:
“Berapa modal yang saya punya?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Masalah apa yang bisa saya selesaikan?”
Jika Anda memiliki kemampuan membuat konten, bantu UMKM agar lebih dikenal.
Jika Anda pandai memasak, bantu orang mendapatkan makanan yang mereka butuhkan.
Jika Anda memiliki jaringan dan kemampuan mengatur layanan, bantu orang menghemat waktu.
Jika Anda mengenal Solo dengan baik, bantu wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna.
Jika Anda memahami tanaman, bantu orang merawat sesuatu yang mereka cintai.
Dari situlah peluang usaha biasanya muncul.
Bukan dari mengejar bisnis yang sedang viral.
Melainkan dari memahami kebutuhan yang benar-benar ada.
Solo Punya Banyak Peluang, Tetapi Tidak Semua Orang Melihatnya
Seorang pemilik warung mungkin melihat ponsel hanya sebagai alat untuk berkomunikasi.
Seorang pembuat konten melihatnya sebagai kamera dan alat kerja.
Seorang wisatawan melihat gang tua sebagai jalan biasa.
Seorang pemandu lokal melihatnya sebagai cerita.
Seseorang melihat tanaman yang layu sebagai masalah.
Seorang penghobi tanaman melihatnya sebagai peluang untuk memberikan solusi.
Inilah perbedaan cara melihat.
Peluang bisnis sering kali tidak muncul karena sesuatu yang benar-benar baru. Banyak peluang justru muncul karena seseorang melihat kebutuhan lama dengan cara yang berbeda.
Kota Solo sendiri memiliki ekosistem yang mendukung berbagai aktivitas tersebut. Ekonomi kota tumbuh, sektor informasi dan komunikasi berkembang, konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu penggerak, sementara budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM terus menjadi bagian penting dari denyut ekonomi kota.
Namun pada akhirnya, modal kecil hanyalah titik awal.
Yang membuat sebuah usaha bertahan adalah kemampuan untuk belajar.
Belajar dari pelanggan.
Belajar dari kesalahan.
Belajar mengatur uang.
Belajar menggunakan teknologi.
Belajar mempromosikan produk.
Dan yang paling penting, belajar memahami bahwa bisnis bukan hanya tentang mendapatkan uang dari pelanggan, tetapi juga tentang memberikan sesuatu yang membuat pelanggan merasa uang yang mereka keluarkan memang layak.
Mungkin hari ini Anda hanya memiliki sebuah ponsel.
Mungkin hanya memiliki dapur rumah.
Mungkin hanya memiliki sepeda motor.
Mungkin hanya memiliki kemampuan memasak, membuat video, merawat tanaman, atau mengenal sudut-sudut Kota Solo.
Jangan buru-buru menganggapnya terlalu kecil.
Banyak usaha besar pada awalnya juga dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
Yang membedakan bukan selalu jumlah modal di hari pertama.
Melainkan keberanian untuk memulai, kemampuan membaca kebutuhan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Karena di Kota Solo, peluang bisnis tidak selalu muncul dalam bentuk ruko dengan harga sewa mahal.
Kadang, peluang itu berada di dalam ponsel yang selama ini hanya digunakan untuk bermain media sosial.
Kadang, ia berada di dapur rumah.
Kadang, ia berada di balik tumpukan pakaian.
Kadang, ia berjalan bersama wisatawan yang sedang mencari cerita.
Dan kadang, ia tumbuh perlahan di dalam pot kecil di sudut rumah.
Modal boleh kecil.
Langkah pertama boleh sederhana.
Tetapi jika yang dijual benar-benar dibutuhkan orang, dikelola dengan baik, dipromosikan secara konsisten, dan terus dikembangkan berdasarkan pengalaman pelanggan, sebuah usaha kecil memiliki peluang untuk tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebab, dalam dunia usaha, yang paling mahal bukan selalu modal.
Sering kali, yang paling mahal adalah kemampuan melihat peluang yang sebenarnya sudah ada di depan mata.(KabareSolo.com/Rimawan)





Post a Comment