Saat Ekonomi Sulit Warga Solo Justru Menunjukkan Sesuatu yang Langka
![]() |
| IST - Hal langka dari warga Solo inspirasi untuk Indonesia. |
KABARESOLO.COM - Saat Ekonomi Sulit, Warga Solo Raya Justru Menunjukkan Sesuatu yang Mulai Langka: Saling Menolong, Jujur, dan Pantang Malu Cari Rezeki
Di tengah kondisi ekonomi yang dikeluhkan banyak orang, ada pemandangan-pemandangan kecil di sekitar Kota Solo yang justru menyimpan pelajaran hidup besar, Kamis 14 Mei 2016.
Bukan tentang orang kaya.
Bukan tentang pejabat.
Bukan pula tentang kehidupan mewah.
Melainkan tentang warga biasa yang tetap bergerak, tetap bekerja, tetap saling membantu, dan tetap menjaga harga diri lewat kerja keras.
Kota Surakarta dan wilayah sekitarnya sejak dulu memang dikenal memiliki masyarakat yang ulet, cekatan, dan pandai mencari peluang hidup. Dari pasar tradisional, kampung-kampung padat, pinggir jalan, hingga lorong kecil perkampungan, selalu ada denyut semangat bertahan hidup yang terasa nyata.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa Solo selalu punya “nyawa”.
Kota ini tidak hanya hidup karena bangunan, jalan, atau acara hiburan. Tapi karena warganya punya mental bertahan yang kuat.
Dari Kuli Menjadi Tukang Sayur Keliling, lalu Menghidupi Banyak Orang
Salah satu kisah itu datang dari Andri, warga Karangpandan.
Dulu hidupnya jauh dari kata mapan. Ia pernah bekerja sebagai kuli dengan penghasilan yang tidak menentu. Sampai akhirnya ia bertemu seorang teman yang berjualan sayur keliling menggunakan mobil.
Pertemuan sederhana itu mengubah hidupnya.
Ia diajak ikut bekerja di dunia jual beli sayuran keliling. Tidak hanya diberi pekerjaan, Andri juga dibantu dari nol. Dipinjami uang, disewakan motor, dikenalkan wilayah jualan, bahkan diberi gambaran pelanggan.
Dari situlah ia mulai berdiri pelan-pelan.
Kini Andri mampu menghidupi keluarganya dan menyekolahkan tiga anaknya dengan baik dari hasil berjualan sayur keliling.
Namun yang lebih menyentuh bukan sekadar keberhasilannya.
Semangat membantu itu ternyata menular.
Andri dan temannya kini ikut membantu banyak pemuda lain agar memiliki pekerjaan yang sama. Mereka yang sudah berhasil diminta melakukan hal serupa kepada orang berikutnya.
Semacam estafet kebaikan.
Dari semangat itu, kini ada sekitar 40-an pemuda yang akhirnya memiliki profesi sebagai penjual sayur keliling.
Di tengah banyak orang sibuk bersaing menjatuhkan, mereka justru sibuk menarik orang lain agar ikut bertahan hidup bersama.
Kejujuran Penjual Angkringan yang Mungkin Mulai Langka
Kisah lain terjadi di sebuah angkringan kawasan Kartasura, pinggiran Solo.
Saat memesan teh jahe, sang penjual justru berkata jujur bahwa kondisi jahenya sedang kurang bagus dan agak membusuk.
Ia bahkan menunjukkan jahenya secara langsung.
Padahal ia bisa saja diam dan tetap menjual minuman itu demi mendapatkan uang.
Namun ia memilih jujur.
Pesanan akhirnya diganti menjadi susu jahe.
Bagi sebagian orang mungkin ini hal biasa. Tapi di tengah persaingan usaha kecil yang keras, kejujuran seperti itu justru terasa mahal.
Penjual angkringan tersebut tampaknya paham satu hal penting: pelanggan tidak hanya membeli makanan, tapi juga rasa percaya.
Dan kepercayaan dibangun dari keberanian untuk jujur, bahkan ketika itu bisa membuat dagangan batal terjual.
Ibu Penjual Daster dan Mental Bertahan Hidup Warga Kecil
Pemandangan berikutnya juga tak kalah menyentuh.
Seorang ibu muda terlihat menjajakan daster di pinggir jalan. Harga yang ditawarkan hanya sekitar Rp30 ribu.
Tanpa toko.
Tanpa tenda.
Tanpa kipas angin.
Ia bahkan harus bersembunyi di balik gantungan daster untuk menghindari panas matahari.
Namun tidak terlihat rasa malu di wajahnya.
Yang terlihat justru keteguhan.
Di tengah perputaran uang masyarakat bawah yang sedang sulit, banyak warga memilih bergerak daripada menyerah. Ada yang berjualan kecil-kecilan, membuka lapak dadakan, menjadi reseller, hingga menjajakan barang di tepi jalan seperti ibu muda tersebut.
Mereka sadar hidup tidak bisa hanya menunggu keadaan membaik.
Harus ada keberanian mencari celah sekecil apa pun demi keluarga tetap makan.
Dan mungkin memang itulah karakter banyak warga Solo Raya sejak dulu: tidak gengsi bekerja.
Solo dan Orang-Orang yang Tidak Mudah Menyerah
Solo mungkin bukan kota terbesar di Indonesia. Tapi kota ini sejak lama dikenal memiliki masyarakat yang kreatif mencari jalan hidup.
Dari pedagang kaki lima, tukang jamu, penjual wedangan, pengrajin, tukang sayur keliling, hingga pelaku UMKM kecil, semuanya menjadi bagian dari denyut ekonomi rakyat yang membuat kota ini terus bergerak.
Di balik ramainya kafe, event, dan pembangunan kota, sebenarnya ada ribuan perjuangan kecil yang jarang terlihat.
Ada orang yang bangun dini hari demi kulakan sayur.
Ada penjual angkringan yang menjaga rasa dan kejujuran agar pelanggan tetap datang.
Ada ibu-ibu yang rela kepanasan di pinggir jalan demi menjual beberapa potong daster.
Mereka mungkin tidak masuk berita besar nasional.
Namun merekalah wajah asli ketahanan masyarakat kecil.
Dan dari kisah-kisah sederhana seperti inilah, Solo terasa lebih dari sekadar kota.
Ia adalah tempat di mana semangat hidup masih terus diwariskan dari satu orang ke orang lain. (KabareSolo/Rimawan Prasetiyo)




Post a Comment