Header Ads

Kota Solo Zaman Dulu: Dari Decit Komidi Putar Sriwedari hingga Dingdong Singosaren

 

IST - Semarak Taman Hiburan Rakyat Kota Solo zaman dulu.


KABARESOLO.COM - Bayangkan sebuah malam di Solo puluhan tahun lalu.
Lampu warna-warni berkelip di kejauhan. Suara musik dangdut terdengar samar bercampur tawa anak-anak.

Aroma sate kere, jagung bakar, dan gulali memenuhi udara. Orang-orang berjalan santai tanpa terburu-buru, anak kecil berlarian sambil membawa balon, sementara para remaja duduk bergerombol menikmati malam minggu yang terasa panjang dan hangat.

Dulu, hiburan rakyat di Solo bukan sekadar tempat mencari kesenangan. Ia adalah ruang pertemuan, tempat warga melepas penat, jatuh cinta, tertawa bersama, dan menciptakan kenangan yang terus hidup sampai hari ini.

Dan nama yang paling membekas di hati banyak wong Solo tentu saja: Sriwedari.
Pada masanya, kawasan Sriwedari adalah dunia kecil yang penuh kehidupan. Begitu memasuki area taman hiburan itu, pengunjung langsung disambut suara komidi putar berdecit, lampu permainan yang berkedip-kedip, serta hiruk-pikuk pedagang kaki lima yang menjajakan aneka jajanan murah meriah.

Anak-anak akan merengek minta naik odong-odong atau kapal putar. Para orang tua duduk santai menikmati suasana sambil memegang plastik kacang rebus.

Di sudut lain, suara musik organ tunggal atau dangdut terdengar dari panggung hiburan rakyat yang hampir selalu ramai penonton.

Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada layar LED raksasa. Tidak ada media sosial untuk dipamerkan.

Namun anehnya, justru itulah yang membuat semuanya terasa hidup.
Orang-orang datang untuk benar-benar menikmati malam.

Di Sriwedari pula, pertunjukan wayang orang pernah menjadi hiburan utama masyarakat. Gedung pertunjukan hampir selalu dipenuhi penonton yang rela duduk berjam-jam menikmati kisah Mahabharata dan Ramayana.

Lampu panggung yang temaram, suara gamelan yang mengalun pelan, serta dialog para pemain menjadi bagian dari denyut budaya malam Kota Solo.

Bagi generasi lama, menonton wayang orang bukan sekadar hiburan, tetapi ritual kebersamaan.

Sementara itu, kawasan kota seperti Singosaren dan Slamet Riyadi juga pernah menjadi pusat keramaian anak muda Solo.

Dulu bioskop-bioskop lawas berdiri gagah dengan poster film besar di depannya. Remaja-remaja datang bergerombol, membeli tiket murah, lalu nongkrong sampai malam.

Belum lagi arena dingdong yang begitu populer pada era 80-an dan 90-an.
Suara mesin arcade berbunyi nyaring tanpa henti. Anak-anak sekolah rela menghabiskan uang saku demi bermain game balap, tembak-tembakan, atau fighting game favorit mereka.

Tempat itu sederhana, panas, dan penuh asap rokok orang dewasa, tetapi justru di situlah kenangan masa muda banyak orang Solo tercipta.

Malam di Solo kala itu terasa lebih lambat.
Orang-orang tidak sibuk menatap layar ponsel. Tidak ada yang berjalan sambil merekam video untuk konten. Semua hadir sepenuhnya di dalam suasana.

Berubah karena Zaman

Kini semuanya berubah.
Banyak hiburan rakyat lama perlahan hilang, tergeser pusat perbelanjaan modern, café estetik, hiburan digital, dan budaya media sosial.

Anak-anak sekarang lebih akrab dengan game online dibanding komidi putar pasar malam. Pertunjukan tradisional tak lagi seramai dulu. Bioskop lawas menghilang satu per satu.

Sriwedari yang dulu begitu gemerlap kini tak lagi seperti masa kejayaannya.
Dan mungkin itulah yang membuat banyak orang mulai rindu.

Karena hiburan zaman dulu memang sederhana, tetapi punya sesuatu yang sulit dijelaskan: kehangatan.

Ada rasa dekat antar manusia. Ada tawa yang nyata. Ada malam-malam panjang yang terasa penuh kehidupan meski tanpa teknologi modern.

Solo hari ini mungkin jauh lebih modern dan terang.

Tetapi bagi banyak wong Solo, kota ini pernah terasa paling indah justru ketika lampu pasar malam masih menyala di Sriwedari, gamelan masih terdengar sampai larut malam, dan kebahagiaan bisa didapat hanya dari naik komidi putar bersama keluarga.(*)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.