Lagi Ramai di Indonesia, Ternyata Warga Solo Lebih Dulu Melakukannya
![]() |
| IST - Seni budaya bagian dari tren di Kota Solo sejak dulu. |
KABARESOLO.COM - Belakangan ini, di banyak kota di Indonesia, pertunjukan budaya mulai menemukan penonton baru.
Yang datang bukan hanya kalangan pecinta seni atau generasi lama. Justru wajah-wajah muda kini semakin sering terlihat duduk di kursi penonton—menunggu lampu panggung meredup, mendengar tabuhan gamelan dimulai, lalu larut mengikuti jalannya pertunjukan hingga usai.
Beberapa tahun lalu, pemandangan seperti ini belum terlalu lazim.
Akhir pekan anak muda biasanya identik dengan konser musik modern, festival kopi, pameran kreatif, atau berburu tempat nongkrong estetik untuk diunggah ke media sosial. Namun sekarang muncul kecenderungan baru yang tumbuh pelan tetapi nyata: menikmati seni tradisi secara langsung.
Bukan sekadar datang ke museum atau berfoto di bangunan tua.
Mereka mulai benar-benar duduk menyaksikan gerak penari mengikuti irama gamelan, menyimak dalang memainkan lakon berjam-jam, mendengar suara sinden yang mengalun di sela malam, hingga menikmati dialog teater tradisional yang dulu lebih lekat dengan generasi orang tua.
Fenomena ini juga tampak jelas di media sosial.
Di TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts, potongan-potongan pertunjukan budaya kini semakin sering muncul di beranda. Ada video penari tradisional dengan tata cahaya dramatis, adegan wayang yang memancing tawa lewat kelakar punakawan, bunyi gamelan yang terdengar magis, hingga ekspresi para pemain teater tradisi yang mendadak terasa dekat dengan bahasa visual generasi sekarang.
Menariknya, banyak video itu justru diunggah oleh anak muda sendiri.
Mereka tidak lagi melihat seni tradisi sebagai sesuatu yang berat, kaku, atau hanya cocok untuk pelajaran sejarah. Sebaliknya, pertunjukan budaya kini direkam sebagai pengalaman yang unik, atmosferik, bahkan estetik.
Namun bagi warga Solo, semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Jauh sebelum pertunjukan budaya ramai dibicarakan di berbagai kota, masyarakat Surakarta sudah lebih dulu akrab dengan kebiasaan ini.
Di kota ini, menonton seni pertunjukan bukan sekadar agenda sesekali atau tren musiman. Ia sudah lama menjadi bagian dari ritme kehidupan kota.
Malam-malam di Solo sejak dulu akrab dengan suara gamelan. Nama-nama lakon wayang bukan hal asing di telinga warga. Menonton tari, wayang orang, karawitan, hingga pertunjukan tradisional lainnya telah tumbuh bersama kehidupan sehari-hari.
Ketika kota-kota lain baru mulai melihat seni tradisi sebagai pengalaman yang otentik dan berbeda, warga Solo sudah lama menjalaninya tanpa perlu menyebutnya sebagai tren.
Mungkin itulah yang membuat Solo terasa berbeda.
Di banyak tempat, seni tradisi hari ini kembali dicari karena menawarkan sesuatu yang tidak diberikan hiburan digital: pengalaman hadir secara utuh dalam satu ruang dan satu waktu.
Namun di Solo, pengalaman itu tidak pernah benar-benar hilang.
Suara gamelan yang bergetar di dada, tawa penonton saat punakawan melontarkan sindiran, jeda hening sebelum adegan penting dimulai, hingga lampu panggung yang perlahan meredup—semuanya telah lama menjadi bagian dari memori kolektif kota ini.
Karena itu, ketika Indonesia hari ini ramai membicarakan kembalinya minat pada pertunjukan budaya, Solo seolah hanya sedang mengingatkan satu hal sederhana: warga kota ini sudah lebih dulu melakukannya.
Dan salah satu bukti paling nyata dari hal itu berdiri di jantung kota: Gedung Wayang Orang Sriwedari.
Jauh sebelum pertunjukan budaya ramai dibicarakan di berbagai kota, masyarakat Surakarta sudah lebih dulu akrab dengan kebiasaan duduk menikmati seni pertunjukan secara langsung. Bukan karena sedang tren, bukan pula karena dorongan media sosial, melainkan karena sejak lama hal itu memang telah menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.
Di tempat inilah Solo seperti menyimpan ingatan panjang tentang bagaimana seni tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ketika di banyak kota pertunjukan budaya baru kembali dicari karena dianggap unik, otentik, dan memberi pengalaman berbeda, warga Solo sudah lebih dulu akrab dengan suasana menunggu lampu panggung meredup, tabuhan gamelan mulai terdengar, lalu kisah pewayangan bergerak perlahan di atas panggung.
Yang membuatnya istimewa, Wayang Orang Sriwedari bukan sekadar panggung nostalgia.
Hingga Mei 2026, pertunjukan di sini masih berjalan rutin setiap Senin sampai Sabtu, mulai pukul 19.30 WIB, dengan satu pengecualian pada 26 Mei 2026 yang tidak ada pementasan. Artinya, hampir setiap malam warga masih bisa datang dan menikmati pertunjukan yang telah hidup lebih dari seabad.
Wayang Orang Sriwedari sendiri mulai dipentaskan secara komersial sejak 1911. Itu menjadikannya salah satu tradisi panggung dengan usia terpanjang di Indonesia.
Yang lebih menarik lagi, menikmati pertunjukan budaya bersejarah di Solo ternyata tidak mahal.
Harga tiket untuk wisatawan domestik saat ini hanya Rp20.000, sementara wisatawan mancanegara Rp50.000. Tiket dapat dibeli langsung di loket mulai pukul 18.30 WIB, sedangkan reservasi pada hari yang sama dibuka sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB melalui kontak resmi pengelola.
Di tengah harga hiburan modern yang semakin mahal, biaya semurah itu membuat seni pertunjukan di Solo tetap terasa dekat dengan masyarakat.
Dan yang membuat banyak orang datang kembali bukan hanya karena murah.
Setiap malam, lakon yang dipentaskan selalu berganti.
Pada Mei ini misalnya, penonton bisa menjumpai judul-judul seperti Petruk Dadi Ratu pada 14 Mei, Petruk Kembar pada 15 Mei, Kunjarakarna pada 20 Mei, Kresna Gugah pada 25 Mei, hingga Begawan Sidalancang pada 30 Mei.
Variasi lakon inilah yang membuat pengalaman menonton tidak pernah benar-benar sama dari satu malam ke malam berikutnya.
Di sinilah letak yang membedakan Solo dari banyak kota lain.
Di tempat lain, seni tradisi belakangan ini kembali naik karena viral di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Potongan video wayang, tari, gamelan, hingga teater tradisional kini memang lebih sering muncul di beranda dan menarik rasa penasaran generasi muda.
Namun di Solo, pengalaman itu sudah lebih dulu hadir jauh sebelum algoritma media sosial ikut meramaikannya.
Warga kota ini sudah lama mengenal sensasi yang hari ini baru ramai dicari banyak orang: suara gamelan yang bergetar di dada, tawa penonton saat punakawan melontarkan sindiran, hening sesaat sebelum adegan penting dimulai, hingga lampu panggung yang perlahan meredup di akhir pertunjukan.
Jadi ketika sekarang Indonesia mulai ramai membicarakan kembalinya minat terhadap seni tradisi, Solo seolah hanya sedang mengingatkan satu hal sederhana:
warga kota ini sudah lebih dulu melakukannya.(*)




Post a Comment