Balekambang, Dulu Tak Sembarang Orang Bisa Masuk
![]() |
| KABARESOLO/RIMAWAN - Bale Bojana satu di antara beberapa area di Taman Balekambang, tampak asri, sejuk dan menyenangkan. |
KABARESOLO.COM - Awalnya terasa seperti taman biasa, rindang, tenang, dan penuh orang bersantai. Tapi tak semua orang tahu tempat ini menyimpan cerita besar, Kamis 30 April 2026.
Dulu, tempat ini bukan untuk umum.
Bahkan, tidak semua orang boleh masuk.
Nama “Balekambang” sendiri seolah memberi petunjuk. Dalam bahasa Jawa, “bale” berarti bangunan, dan “kambang” berarti mengapung.
Tapi jangan bayangkan bangunan yang benar-benar terapung seperti rakit.
Yang ada di sini jauh lebih halus dari itu.
Semuanya dirancang agar terlihat mengapung, sebuah ilusi arsitektur yang elegan.
Cinta Ayah
Cerita ini dimulai pada 1921, ketika Mangkunegara VII membangun taman ini di kawasan Surakarta.
Lokasi di Jalan Balai Kambang, Manahan, Banjarsari, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.
Tujuannya sederhana tapi penuh makna: menghadirkan ruang istimewa untuk dua putri tercintanya.
Di dalamnya ada Partini Tuin, taman air dengan kolam luas. Di tengah kolam inilah berdiri bangunan berbentuk bundar yang seolah mengambang.
"Kolam Partini”. Dari atas, bentuknya benar-benar simetris, dikelilingi air, dan menjadi pusat perhatian.
![]() |
| KABARESOLO/RIMAWAN - Kolam Partini tampak dari atas, foto papan proyek revitalisasi Taman Balekambang. |
Sementara di sisi lain ada Partinah Bosch, kawasan hutan kecil yang teduh, tempat sempurna untuk menyepi.
Bayangkan suasana masa itu.
Air tenang. Perahu kecil bergerak pelan. Dan di tengahnya, bangunan yang tampak ringan, seolah tidak menyentuh tanah.
Bukan karena benar-benar mengapung, tapi karena dirancang untuk memberi kesan itu.
Waktu berjalan, dan Balekambang ikut berubah.
Dari taman pribadi bangsawan, kini menjadi ruang publik yang hidup. Tapi perubahan terbesar justru terjadi beberapa tahun terakhir, saat kawasan ini direvitalisasi besar-besaran.
![]() |
| KABARESOLO/RIMAWAN - Papan Proyek Revitalisasi Balekambang. |
Dari papan proyek , terlihat jelas:
Nilai proyek revitalisasi mencapai Rp170 miliar
Dikerjakan sekitar Agustus 2022 – Desember 2023.
Luas kawasan sekitar 12,8 hektare
Dan yang dibangun bukan sekadar perbaikan biasa.
Tapi transformasi total.
Kini Balekambang punya:
Gedung pertunjukan untuk acara seni dan budaya.
Skywalk yang memungkinkan pengunjung berjalan di atas area hijau.
Amphitheater untuk pertunjukan.
Pendopo kedatangan yang lebih representatif
Penataan lanskap yang jauh lebih modern
Namun yang paling menarik: Kolam Partini direvitalisasi tanpa menghilangkan identitasnya.
Bangunan “mengambang” itu tetap jadi pusat, tetap jadi jiwa dari Balekambang.
![]() |
| KABARESOLO/RIMAWAN - SD Marsudirini Surakarta saat melakukan kegiatan outing class memilih Balekambang. |
![]() |
| KABARESOLO/RIMAWAN - Arena bermain untuk anak tersedia di beberapa lokasi. |
Di luar itu, Balekambang sekarang juga jauh lebih ramah pengunjung:
Lapangan luas untuk piknik dan olahraga
Taman bermain anak
Area rusa yang jadi favorit keluarga
Toilet modern dan bersih
Kantin dan area kuliner tertata
Tiket masuk hanya sekitar Rp5.000
Murah, tapi pengalaman yang didapat terasa mahal.
Yang menarik, meskipun sudah berubah begitu banyak, satu hal tetap dipertahankan: namanya.
“Balekambang.”
Nama yang bukan sekadar identitas, tapi cerita. Tentang air, tentang ilusi, tentang keindahan yang dulu hanya milik bangsawan dan sekarang bisa dinikmati siapa saja.
Jadi saat kamu berdiri di sana, melihat kolam Partini, atau berjalan di bawah rindangnya pohon, sadar atau tidak, kamu sedang berada di tempat yang dulu hanya untuk putri kerajaan.
Bedanya sekarang?
Kamu tidak perlu jadi bangsawan untuk menikmatinya.(*)








Post a Comment