Header Ads

4 Tanda Kebiasaan Buruk yang Bikin Sulit Kaya

IST - Ilustrasi si miskin dan si kaya dalam satu gambar.



KABARESOLO.COM
- Setiap orang mendamba berlimpah harta, tapi tak semua bisa mencapainya.

Bukan yang memang dari lahir cenger kaya raya lho ya, tapi dari keluarga biasa atau mungkin kekurangan tapi karena disiplin dan kerja keras bisa berubah nasib jadi kaya banyak harta.

Namun sering yang terjadi sebaliknya, beberapa kebiasaan buruk justru menonjol dan menjadi hambatan seseorang bisa berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya secara finansial.

Nah berikut lima tanda/ kebiasaan buruk yang bikin seseorang sulit jadi kaya versi KabareSolo.com, Sabtu, 25 Juli 2020.

1. AKHIR BULAN GAJI LUDES

Masih ingat ketika pertama kali gajian?

Yakin deh pasti gajian untuk pertama kalinya untuk syukuran, nraktir orangtua, saudara, teman atau sahabat.

Euforia muncul untuk pertama kalinya bisa lepas dari orangtua dan bisa menghasilkan uang sendiri untuk masa depan.

Ludes? Pastilah karena memang untuk pertama kali butuh juga hal semacam ini menunjukkan rasa sukacita pada orang-orang yang dekat dengan kita.

Nah gaji bulan kedua saatnya untuk beradaptasi.

Sangat bagus kalau bisa menyisihkan banyak uang, syukur bisa sisa sedikit sudah prestasi.

Gajian untuk ketiga kalinya sudah saatnya untuk berhitung.

Ternyata setelah gajian ketiga hingga selama satu tahun ternyata tak ada yang bisa ditabung atau disisihkan, berarti ada yang salah.

Ini salah satu tanda dan jadi warning, kalau ini dibiarkan terus menerus ya bakal masuk dalam pusaran kebiasaan akhir bulan gaji tak bersisa.

Ini salah satu ciri seseorang sulit menjadi kaya kalau tak bisa diubah.

Memang tak dipungkiri setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda, ada yang bekerja untuk membayar cicilan utang keluarga, ada yang bekerja untuk biayai adik-adik sekolah dan sebagainya.

Artinya hasil kerja memang bukan untuk diri sendiri melainkan untuk membantu terkait masalah yang dialami keluarga atau saudara.

Nah ini tentu kondisi khusus ya, bisa dibilang ini masih wajar mengingat kondisi keluarga yang tak bisa ditinggalkan.

Namun bila ketika berada di kondisi kita tak memiliki tanggungan, sudah memiliki gaji tapi tak bisa disisihkan untuk menabung atau investasi, nah ini masalah besar.

Jadi jangan sampai di akhir bulan gaji sudah ludes tak bersisa.

Solusinya adalah pembukuan ketat, perencanaan matang dan disiplin untuk sisihkan uang berinvestasi.

Berikut tulisan yang tepat untuk kondisi seperti ini:


Nah level berikutnya ini lebih berbahaya.

2. BELUM AKHIR BULAN MALAH SUDAH BERUTANG

Menulis di kondisi ini jadi ingat ketika dulu penulis tinggal di sebuah kota besar di luar Jawa.

Saat itu bekerja di sebuah perusahaan media dengan gaji lumayan kecil, padahal biaya hidup relatif besar ya karena di luar Pulau Jawa.

Tinggal bersama istri dan masih anak satu, setiap dekati akhir bulan yang dinyanyikan lagu 'beras terakhir'.

Beruntung memiliki teman satu kerjaan tapi dia memiliki bisnis sampingan yang berjalan baik, sehingga hampir tiap akhir bulan dengan wajah memelas dia sudah paham dan tanya butuh uang berapa?

Belum akhir bulan terpaksa berutang dan seperti biasa awal bulan saat gajian selalu dibayar.
.
Kalau ingat ini pasti tersenyum geli, tapi itu memang kondisi yang nyata.

Bila masuk dalam kondisi seperti ini, pusaran yang tak berujung, secara terus menerus berulang dan tak berusaha mengubah, maka orang dalam kondisi ini bakal sulit maju, sulit menggapai kekayaan.

Akhirnya penulis bertekat kondisi ini harus bisa diubah, bersama istri ngobrol serius.

Solusinya hanya dua jalan keluar bila ingin hidup nyaman dengan gaji kecil.

Pertama sebisa mungkin, entah bagaimana caranya berhemat agar gaji bisa nutup pengeluaran tiap bulan.

Jalan keluar kedua adalah cari penghasilan lain agar bisa menutup gaji yang kecil.

Cara pertama sudah tidak mungkin karena seberapa cara telah dilakukan, mulai penghematan, perencanaan matang tapi karena gaji memang kecil nggak bisa nutup biaya hidup.

Akhirnya dipikirkan cara kedua karena pada kondisi tiap bulan berutang solusi super hemat tak bisa dilakukan.

Setelah beberapa tahun mencoba mencari tambahan penghasilan akhirnya bisa keluar dari masalah tersebut.

Tak ada lagi berutang jelang akhir bulan, malah punya aset investasi dan beberapa usaha lainnya.

Tulisan di bawah ini bisa menjadi alternatif bagi Anda yang ingin mencari penghasilan:



Seperti yang telah diketahui bersama menjadi kaya konsepnya sangat sepele tapi realisasinya yang sulit.

Intinya bagaimana pendapatan bisa berkali-kali lipat dari pengeluaran.

Inilah butuh kedisiplinan, ketangguhan, ketekunan dan usaha keras.

Ciri atau kebiasaan lain yang bikin sulit kaya yakni:

3. BELI SESUATU TANPA MIKIR

Kebiasaan ini menjadi momok menakutkan bagi banyak orang, bagi anak miliuner mungkin bukan masalah tapi bagi orang berpenghasilan sedang tentu menjadi sumber masalah.

Sesuatu yang dilakukan lebih dari satu kali akan diulang menjadi dua kali, dua kali jadi tiga kali, berkali-kali dan lebih dari itu akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang dilakukan terus menerus bakal jadi budaya.

Kalau kebiasaan beli sesuatu tanpa mikir, ah sudahlah asal bisa kebeli nanti uang gaji habis tak masalah, masih ada keluarga, masih ada saudara, masih ada teman yang bisa diutang.

Bila ini terjadi terus menerus tentu jadi kebiasaan buruk dan masuk kriteri seseorang yang sulit menjadi kaya.

Solusinya adalah menahan diri, teguhkan diri untuk 'mengerem' pembelanjaan hal yang belum dibutuhkan atau sekadar hobi.

Meski demikian bila memang barang tersebut sangatlah penting, masukkan dalam perencanaan, dan di bulan apa kita bisa beli barang tersebut.

Pembukuan, perencanaan dan disiplin dalam realisasi jadi kunci keluar dari masalah ini.

4. TANPA RENCANA DAN BERPRINSIP 'PASTI ADA JALAN'

Kalimat kedua yakni prinsip 'pasti ada jalan' tidaklah buruk bila berawal dari perencanaan matang tapi kita terus menemukan masalah, ini arahnya positif itu bagus.

Namun bila kalimat tersebut diterapkan gara-gara kita melakukan sesuatu hal tanpa rencana, ini jadi akar masalah.

Jadi begini ketika menjalani hidup terutama terkait pengeluaran tanpa terencana, semua spontan, improvisasi, pengin ini beli, pengin itu ambil, mudah belanja tanpa direncanakan, mudah berutang barang yang belum tentu benar-benar dibutuhkan.

Apa yang dilakukan ini didasarkan pada keyakinan kalau nanti pasti ada jalan, inilah masalah besar.

Seseorang bisa bernasib lebih baik karena memiliki rencana, rencana karier, rencana kerja (bila berwirausaha), rencana investasi hingga rencana pengeluaran.

Rencana ini bila dilakukan dengan baik, konsisten dan jadi semacam autopilot (otomatis) selalu dilakukan, tentu keinginan menjadi lebih baik akan mudah tercapai.

Kalau Bahasa Jawanya 'gampangke' atau anggap sepele sesuatu.

"Ah nggak apa-apa lah berutang, nanti gampang, pasti ada jalan, udah aku ambil aja."

Nah hal ini terlihat sepele padahal efeknya luar biasa, seseorang yang 'gampangke' sesuatu, tanpa memikirkan masak-masak sebuah keputusan akan terjebak dalam kondisi yang itu-itu saja.

Coba lihat kembali, bila Anda masih bersikap 'gampangke' sangat sulit keluar dari kondisi kekurangan finansial.

Berubahlah!

Cari jalan terbaik, pikirkan matang, rencanakan secara brilian dan langsung eksekusi bukan hanya berhenti di wacana.

Ingin ubah nasib? Mulailah dengan mengubah kebiasaan-kebiasan buruk.

Semoga bermanfaat, semoga menginspirasi, tetap semangat dan selalu jaga kesehatan ya. (KabareSolo.com/Rimawan Prasetiyo)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.