Header Ads

Walikota Ini Ciptakan Hukuman yang Bikin Warganya Kaya Raya

IST - Ilustrasi kepompong ulat sutera.


Tak selamanya kesalahan harus dihukum sengan sesuatu yang berat dan menyengsarakan, sebuah kisah legendaris seorang Walikota era Dinasti Sung Utara ini justru sukses menciptakan hukuman yang makin membawa kesejahteraan bagi warganya.

KABARESOLO.COM - Sebuah kisah nyata di masa lalu menjadi pelajaran berharga dan bisa menginspirasi di masa kini.

Kebijakan seorang walikota bisa saja jadi contoh di era sekarang dan bisa membantu banyak warga untuk meningkatkan taraf kehidupannya.

Kisah ini terjadi di era Dinasti Sung Utara pada tahun 970 sampai 1127 yang ditulis oleh Walton C Lee dalam bukunya Wisdoms Way.

Seorang walikota baru saja dilantik walikota tersebut bernama Fan Chwen Zan.

Saat itu ia mengetahui kalau potensi kain sutera menjadi komoditi unggulan yang bakal bisa membawa kesejahteraan.

Ia kemudian berpikir keras bagaimana di wilayah yang ia pimpin warganya bersedia dengan sukarela menanam pohon murbei untuk berkembangbiak ulat sutera.

Sesuai perhitungannya bila wilayahnya memiliki banyak pohon murbei dan menghasilkan banyak produksi benang sutera tentu akan meningkatkan kesejahteraan warga.

Walikota Zan sudah memikirkan cara dan ada tiga cara yang bisa ia pikirkan, pertama notabene mayoritas penduduk adalah petani, ia bisa saja memerintahkan para petani untuk menyingkirkan tanaman ladang mereka yang biasa dan menanam pohon murbei.

Cara pertama adalah memaksa dan itu bisa ia lakukan karena memiliki kewenangan tersebut bahkan ia bisa saja menghukum petani yang tak patuh dengan perintah tersebut.

Namun cara ini akan membuat banyak petani menggerutu dan akan bekerja setengah hati tentu saja memmengaruhi produktivitas serta menurunkan citra serta reputasi sang walikota.

Cara kedua yakni dengan menjebak mereka untuk menanam pohon-pohon itu tapi selanjutnya mereka akan tahu kalau teah dijebak nantinya akan sakit hati merasa dikhianati.

Hal ini tentu akan merusak ikatan kepercayaan antara dia dan rakyatnya, kata-katanya tidak akan dihargai lagi.

Maka akhirnya ia menggunakan cara ketiga yakni dengan cara mendorong para warga agar mau melakukannya.

Dengan cara ketiga walikota yang brilian ini kemudian menerbitkan sebuah aturan yakni, siapapun yang terbukti melakukan kesalahan ringan dapat menanam pohon murbei di halaman belakang mereka sebagai ganti hukuman yang biasanya melakukan pekerjaan berat.

Jumlah pohon yang ditanam tergantung pada berat atau tidaknya pelanggaran seseorang, hukuman mereka juga dapat dikurangi dari hasil panen mereka.

Sebuah ide yang cerdas tentu saja hal ini disambut baik oleh warga, siapa yang mau memilih hukuman melakukan pekerjaan berat atau dipenjara dan diperlakukan seperti binatang, tentu saja lebih memilih menanam pohon murbei.

Hukuman ini bagi pelanggaran-pelanggaran ringan bukan tindak kriminalitas berat.

Dalam beberapa tahun telah terdapat ribuan pohon murbei yang berbuah lebat dan warga mulai mengembangbiakkan ulat sutera yang memberikan keuntungan besar.

Orang-orang kemudian menghargai ide luar biasa sang walikota dan memujinya atas kemamuran yang kini dirasakan oleh warganya.

Pelajaran yang dipetik dari hal ini adalah bagaimana seseorang yang memiliki kewenangan bisa mengarahkan sumber daya manusia yang tak terpakai ke bidang lain yang lebih bermanfaat.

Gunakan ide kreatif satu di antaranya dengan mengubah hukuman menjadi sesuatu yang membawa berkah bagi banyak orang.

Selamat mencoba. (*/KabareSolo.com)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.