Header Ads

Mengenal Trastuzumab Subkutan, Perawatan Kanker Payudara Formulasi Baru yang Menghemat Waktu

FOTO ROCHE INDONESIA - Diskusi panel dari kiri ke kanan: Lucia Erniawati, Head of Market Access & Corporate Affairs, PT Roche Indonesia (Moderator); Dr dr Nugroho Prayogo SpPD-KHOM, Investigator SafeHER Indonesia; Zr Musrini, SST, Oncology Specialist Nurse; Dr Diah Ayu Puspandari Apt MKes, MBA, Center for Health Financing Policy and Insurance Management (KPMAK)

KABARESOLO.COM - Kanker payudara menjadi momok setiap orang, hampir kalau ditanya orang dewasa pasti tahu tentang penyaikit mematikan ini, minimal pernah dengar ada teman atau bahkan saudara yang mengidap.

Kanker payudara memang tak bisa dianggap remeh, Yayasan Kanker Indonesia mencatat kalau 18,2 persen kematian di dunia akibat kanker payudara.

Angka yang mengejutkan bukan dengan banyaknya jenis penyakit lain yang mematikan, kanker payudara hampir sering dialami oleh orang-orang sekitar, Jumat (13/7/2018).

Tak dipungkiri kanker payudara memang lebih banyak ditemukan di negara-negara berkembang dibanding negara maju.

Nah melalui diskusi panel para ahli terkait, Roche Indonesia mengumumkan adanya formulasi baru perawatan payudara yang menghemat waktu, Rabu (11/7/2018) lalu.

Roche mengumumkan kalau formulsai ini telah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 23 Mei 2018.

Formulsi tersebut bernama trastuzumab subkutan dan sekarang tersedia di Indonesia.

Teknis perawatan yang dilakukan formulasi subkutan diberikan hanya dalam waktu 2 sampai 5 menit, sementara formulasi intravena standar memerlukan 30 sampai 90 menit.

Formulasi subkutan ini dinilai memberikan kenyamanan lebih bagi pasien dan mengurangi biaya kesehatan secara keseluruhan dibandingkan dengan infus intravena (IV) standar.

Sebelumnya trastuzumab hanya tersedia dalam formulasi infus intravena.

Ini adalah obat yang telah digunakan untuk penatalaksanaan kanker payudara HER2-positif, yang diderita oleh sekitar 22,8% dari semua perempuan yang terdiagnosa dengan kanker payudara di Indonesia.

Seperti diketahui, obat ini telah memberikan dampak dalam meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan menurunkan risiko kekambuhan untuk perempuan yang menderita tipe kanker payudara dini tertentu, serta memperbaiki kualitas dan panjangnya hidup perempuan yang menderita kanker payudara stadium lanjut.

"Persetujuan atas trastuzumab subkutan ini adalah berita yang sangat baik untuk pasien karena dengan formulasi ini, proses pemberian obat secara keseluruhan menjadi lebih cepat karena waktu pemberian obat yang jauh lebih singkat, menghemat sumber daya tenaga kesehatan, meningkatkan kapasitas penanganan pasien, dan menghemat biaya operasional rumah sakit," demikian disampaikan dr Binay Swarup, Country Medical Director Roche Indonesia seperti dikutip KabareSolo.com dari PRNewswire.

Penelitian menunjukkan bahwa pemberian trastuzumab dengan formulasi subkutan memberikan nilai tambah bagi pasien, tenaga kesehatan dan organisasi pelayanan kesehatan.

Trastuzumab subkutan diberikan melalui injeksi di paha bagian atas pasien selama 2 sampai 5 menit dibanding dengan 30 sampai 90 menit dengan infus intravena.

Hal ini mengurangi waktu tunggu pasien tanpa berinteraksi dengan klinisi sebanyak 26% dan waktu penanganan oleh klinisi sebanyak 58%, sehingga pasien lebih sebentar berada di rumah sakit dan dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Zr Musrini S ST seorang suster di bidang onkologi selama 20 tahun, mengatakan kalau dengan teknik ini pasien bisa menghemat lebih dari satu jam pada setiap kunjungan ke rumah sakit untuk perawatan anti-kanker mereka, dan lebih dari 19 jam di sepanjang siklus perawatan mereka.

"Waktu sangatlah berharga dan bisa membebaskan pasien untuk menikmati hidup tanpa merasa terbelenggu oleh infus.  Ini juga berarti pemasangan selang infus yang invasif atau kanula tidak lagi harus dilakukan ke pasien setiap tiga minggu, seperti prosedur standar saat ini," jelasnya.

TAK ADA SISA OBAT

Di samping manfaat untuk pasien, rumah sakit juga bisa mendapat keuntungan dalam penghematan biaya perawatan hingga 35% per pasien setiap tahunnya.

Keuntungan tersebut ditimbulkan dari penghematan waktu dalam persiapan dan pemberian trastuzumab subkutan dan tidak ada sisa obat yang terbuang dibandingkan dengan infus intravena.

Penghematan ini bisa membantu BPJS dalam mengatasi beban kapasitas penjaminan di area kemoterapi yang terus meningkat.

Dr dr Nugroho Prayogo SpPD-KHOM menambahkan, metode pemberian trastuzumab subkutan yang lebih cepat dan tidak invasif ini adalah sebuah langkah maju dalam perawatan kanker payudara HER2-positif.

Ia menilai selain bermanfaat untuk pasien, trastuzumab subkutan menghemat waktu pelayanan perawat spesialis kanker dan farmasi rumah sakit.

Dengan demikian, ada peluang yang lebih baik, praktis, hemat waktu yang bermanfaat bagi pasien, tenaga kesehatan dan rumah sakit."

TRASTUZUMAB

Apa itu trastuzumab?

Trastuzumab adalah antibodi monoklonal yang dirancang untuk menargetkan dan menghentikan fungsi HER2, jenis protein yang diproduksi oleh gen tertentu dan memiliki potensi untuk menyebabkan kanker jika terekspresi berlebihan.

Cara kerja trastuzumab yang unik mengaktivasi sistem kekebalan tubuh, menghentikan sinyal dari HER2, dan menghancurkan sel-sel tumor.

Trastuzumab telah menunjukkan efikasi yang baik dalam pengobatan kanker payudara HER2-positif baik pada stadium dini maupun lanjut.

Diberikan sebagai monoterapi ataupun dikombinasikan dengan kemoterapi standar, trastuzumab telah terbukti dapat meningkatkan kelangsungan hidup, tingkat respon dan kesembuhan dan juga mempertahankan kualitas hidup untuk perempuan dengan kanker payudara HER2-positif.

Trastuzumab dipasarkan oleh Genentech di Amerika Serikat, Chugai di Jepang, dan oleh Roche secara internasional. 

Sejak 1998, trastuzumab telah digunakan untuk mengobati lebih dari 1,2 juta orang dengan kanker payudara jenis HER2-positif di seluruh dunia.

ROCHE

Roche merupakan perusahaan bioteknologi terkemuka yang memiliki pengobatan mutakhir di bidang onkologi, imunologi, penyakit menular, serta penyakit mata dan sistem saraf.

Roche juga merupakan perusahaan terkemuka untuk diagnostik in-vitro, diagnostik kanker berbasis jaringan dan perintis dalam penatalaksanaan diabetes.

Didirikan pada 1896, Roche secara berkesinambungan mencari berbagai cara yang lebih baik untuk mencegah, mendiagnosa, dan mengobati berbagai penyakit serta memberikan kontribusi berkesinambungan untuk masyarakat.

Perusahaan ini juga memiliki tujuan untuk meningkatkan akses pasien terhadap inovasi medis melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

Tiga puluh obat yang dikembangkan oleh Roche termasuk dalam Daftar Obat Esensial WHO, di antaranya antibiotik, antimalaria, dan pengobatan kanker.

Selama sembilan tahun berturut-turut Dow Jones Sustainability Indices memberikan penghargaan kepada Roche sebagai Group Leader yang memberikan kontribusi secara berkelanjutan di bidang Farmasi, Bioteknologi & Industri Riset Kesehatan.

Grup Roche, berkantor pusat di Basel, Swiss, beroperasi lebih dari 100 negara dan pada 2017 mempekerjakan sekitar 94.000 karyawan di seluruh dunia. Tahun 2017, Roche berinvestasi lebih dari 10,4 miliar Swiss Franc untuk riset dan pengembangan dan mencapai angka penjualan 53,3 Swiss Franc. Genentech, di Amerika Serikat, sepenuhnya dimiliki oleh Grup Roche.

Roche merupakan pemegang saham terbesar di Chugai, Jepang. (PRNewswire/KabareSolo.com)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.