Header Ads

Hawa Dingin dan Embun Es di Dieng Ternyata Bukan karena Aphelion, Ini Penjelasan BMKG

GRAFIS KAFEASTRONOMI.COM/INFO BMKG - BMKG menjelaskan secara resmi terkait fenomena suhu dingin dan kabar berantai tentang aphelion yang disebut-sebut sebagai penyebab suhu dingin ini.

KABARESOLO.COM - Akhir-akhir ini heboh dengan fenomena hawa yang sangat dingin menusuk tulang di beberapa wilayah, bahkan di Dataran Tinggi Dieng viral video embun di areal pertanian yang jadi es.

Video tersebut viral lantaran genangan embun tanaman mengeras seperti saat membersihkan kulkas, pada video tersebut dua orang mengambil genangan es di atas plastik penutup tanah areal pertanian.

Lalu menyebar pula foto-foto daun-daun yang embunnya mengkristal jadi es.

Tak berapa lama muncul pesan berantai yang seolah menjelaskan terkait fenomena ini.

Pesan tersebut menyatakan kalau malam tepat pukul 23.48 WIB, Jumat (6/7/2018) sampai pukul 04.45 WIB, Sabtu (7/7/2018) di perkirakan akan ada perubahan cuaca normal ke cuaca yang dingin.

Pesan berantai tersebut mengimbau pada para orangtua yang punya bayi atau balita di rumah agar bayi dan balitanya dianjurkan memakai kaus kaki, baju yang tebal (selimut juga boleh) agar terhindar dari penyakit demam dan mimisan terutama yang tinggal di dataran tinggi.

Kemudian pesan berantai tersebut juga menjelaskan kalau cuaca yang sangat dingin lantaran saat ini bumi sedang berada di titik aphelion.

Titik aphelion dikabarkan pesan berantai tersebut terjadi pada Jumat 6 Juli 2018 lalu.

Dikatakan kalau Bumi akan berada di titik aphelion yaitu posisi bumi berada jauh dari Matahari dan itu menyebabkan suhu bumi menjadi lebih dingin dan mencapai titik minimumnya.

Dalam bidang astronomi, ada sebuah istilah bernama aphelion.

Aphelion berarti jarak terjauh yang dicapai Bumi dalam orbitnya mengelilingi Matahari.

Sedangkan kebalikannya adalah perihelion, yaitu jarak terdekat Bumi dengan Matahari.

Orbit Bumi tidak bulat sempurna, tapi berbentuk elips.

Maka itu, akan ada waktunya Bumi berada di titik terjauhnya dan juga di titik terdekatnya dengan Matahari.

Aphelion tahun ini akan terjadi 6 Juli 2018 pukul 23.48 WIB.

Karena puncaknya terjadi saat malam hari, maka kita yang berada di Indonesia dan sekitarnya tidak bisa melihat peristiwa ini, hanya saja suhu udara menjadi lebih dingin.

INSTAGRAM/@SUTOPOPURWO - Sutopo turut menjelaskan tentang fenomena hawa dingin yang video dan foto-fotonya viral di sosial media.

BENARKAH DEMIKIAN?

Informasi tentang titik aphelion dan perihelion sepenuhnya tak salah tapi titik Aphelion yang dituding jadi penyebab hawa dingin di beberapa wilayah dibantah oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

Melalui akun Instagram miliknya @sutopopurwo ia menjelaskan kalau fenomena dingin yang terjadi saat ini bukan karena aphelion.

Begini penjelasan selengkapnya.

"Hamparan embun es yang mirip salju menutup pernukaan tanah dan tanaman di Dataran Tinggi Dieng."

"Bagi wisatawan ini adalah berkah karena menambah indahny alam Dataran Tinggi Dieng. Tapi bagi petani ini masibah karena banyak tanaman kentang yang busuk."

"Dinginnya cuaca akibat minimnya awan di atmosfer dan angin yang dingin dan kering dari Australia ke Asia menyebabkan wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara mengalami cuaca dingin."

"Ini adalah fenomena alam yang normal. Bukan disebabkan aphelion. Umumnya akan berlangsung selama Juli hingga Agustus saat puncak musim kemarau."

Sementara itu Deputi Bidang Meteorologi, Mulyono R Prabowo juga turut menjelaskan terkait hal ini.

Melalui akun resmi Instagram BMKG @infobmkg Mulyono menjelaskan lebih rinci tentang penyebab suhu dingin dan faktanya bukan disebabkan fenomena aphelion.

INSTAGRAM/@INFOBMKG - Penjelasan fenomena hawa dingin apakah terkait aphelion? BMKG merilis penjelasan rinci.


Berikut penjelasannya secara rinci.

APAKAH APHELION MEMPENGARUHI SUHU UDARA DI INDONESIA?

Banyak tersiar kabar di tengah masyarakat hari ini (6/7) bahwa suhu udara di wilayah Indonesia akan mengalami penurunan drastis akibat fenomena _aphelion_ pada hari ini (6/7).

 Informasi tersebut tersebar dengan sangat cepat dan cukup meresahkan masyarakat. Sebenarnya fenomena _aphelion_ ini adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli. 

Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah _aphelion_ memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia.

Padahal pada faktanya, penurunan suhu di bulan Juli belakangan ini lebih dominan disebabkan karena dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT kandungan uap di atmosfer cukup sedikit.

Hal ini terlihat dari tutupan awan yang tidak signifikan selama beberapa hari terakhir. Secara fisis, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas. 

Sehingga, rendahnya kandungan uap di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan. 

Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan.

Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi saat musim hujan atau peralihan dimana kandungan uap air di atmosfer cukup banyak, sehingga atmosfer menjadi semacam "reservoir panas" saat malam hari. 
Selain itu, pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin.

 Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari di wilayah Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Berdasarkan pengamatan BMKG di seluruh wilayah Indonesia selama 1 hingga 5 Juli 2018, suhu udara kurang dari 15 derajat Celcius tercatat di beberapa wilayah yang seluruhnya memang berada di dataran tinggi/kaki gunung seperti Frans Sales Lega (NTT), Wamena (Papua), dan Tretes (Pasuruan), dimana suhu terendah tercatat di Frans Sales Lega (NTT) dengan nilai 12.0 derajat Celcius pada tanggal 4 Juli 2018.

Sementara itu untuk wilayah lain di Indonesia selisih suhu terendah selama awal Juli 2018 ini terhadap suhu terendah rata-rata selama 30 hari terakhir ini tidak begitu besar. 

Hal ini menunjukkan bahwa fenomena _aphelion_ memiliki pengaruh yang kurang signifikan terhadap penurunan suhu di Indonesia, sehingga diharapkan masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan terhadap informasi yang menyatakan bahwa akan terjadi penurunan suhu ekstrem di Indonesia akibat dari _aphelion_ 

Jakarta, 6 Juli 2018
Deputi Bidang Meteorologi
Mulyono R Prabowo.

~~~~~

Jadi sudah jelas bukan kenapa suhu dingin terjadi akhir-akhir ini, semoga bisa menambah pengetahuan dan selanjutnya lebih teliti serta cek dan ricek agar tak mudah terpengaruh pesan berantai yang belum tentu tepat. (KabareSolo.com/Robertus Rimawan Prasetiyo)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.