Header Ads

Cemilan Tradisional Legendaris Moto Maling, Ada Khasiat 'Tersembunyi' di Balik Kelezatannya

 
Cemilan legendaris, lezat dan murah meriah, moto maling. Pernah mencoba?

KABARESOLO.COM - Bagi Anda yang tertawa dengar sebutan 'moto maling' kemungkinan besar belum pernah merasakan lezatnya cemilan tradisional ini.

Moto maling adalah cemilan yang populer di Jawa Tengah dan sekitarnya.


Moto maling adalah kulit biji melinjo yang digoreng lalu dibumbui manis pedas.

Cemilan tradisional ini banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional, di Solo misalnya bisa ditemui di berbagai pasar seperti Pasar Kartasura, Pasar Gede serta beberapa pasar lainnya.

Satu bungkus kecil cemilan ini bahkan sangatlah murah cukup membayar Rp 500 bisa rasakan lezatnya moto maling.

Parni (55) seorang asisten rumah tangga hampir seminggu sekali belikan moto maling untuk cemilan majikannya.

"Saya biasa beli di Pasar Kartasura, sebagian besar dibungkus kecil-kecil karena lebih laku dan tahan lama," jelasnya.

Cemilan ini seolah melegenda, sejak Parni kecil sudah menjadi cemilan yang populer, selain karena enak juga sangatlah murah.

Sebutan moto maling mungkin kedengaran aneh apalagi kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia yang artinya mata pencuri.

"Kirangan nggih (kurang tahu ya)," kata Parni dalam Bahasa Jawa halus pada KabareSolo.com ketika ditanya kenapa nama cemilan tersebut moto maling.

Ia menduga karena kulit melinjo warna merah seperti mata pencuri saat siang merah matanya lantaran kurang tidur.

Meski belum diketahui pasti jawaban lezatnya moto maling tak lepas dari rasa asli kulit melinjo yang setelah digoreng memiliki rasa gurih yang khas plus sedikit pahit.

Moto maling adalah cemilan tradisional dari kulit biji melinjo.


Kerenyahan, gurih, sedikit pahit plus bumbu manis pedas bikin banyak orang yang jadikan moto maling cemilan favorit.

Membuat moto maling

Kulit melinjo yang diolah menjadi cemilan moto maling mungkin tak setenar dengan 'seniornya' yakni emping melinjo.

Emping melinjo merupakan biji melinjo yang dijadikan keripik dengan direbus lalu ditumbuk dan dikeringkan.

Setelah kering digoreng dan cukup diberi garam, rasa melinjo sudah mantap, gurihnya makin terasa.

Kadang biar makin gurih bisa ditambah bawang putih, sebeum digoreng cukup dimasukkan sebentar ke rendaman air bawang putih baru digoreng, rasanya makin mantap.

Sementara untuk moto maling pengolahannya lebih sederhana.

Kulit yang melindungi biji melinjo dikupas, lalu tinggal digoreng saja tak perlu dijemur.

Selesai menggoreng tinggal dibalur dengan bumbu gula kelapa plus cabai.

Diamkan sebentar dan siap untuk dinikmati.

Penikmat emping melinjo dijamin juga suka dengan moto maling.

Mungkin dari sisi rasa emping melinjo lebih dominan gurihnya tak salah harganya juga lebih mahal, sementara moto maling yang murah meriah rasa gurihnya masih di bawah emping melinjo.

Kelebihannya tak 'eneg' banyak makan moto maling, masih saja bisa terus, kalau menikmati emping melinjo terlalu banyak ada rasa 'eneg'.

Meski demikian masing-masing orang memiliki pendapat tersendiri setelah merasakan dua cemilan ini.

Cemilan ini banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional di Jawa Tengah.


Khasiat tersembunyi

Sebut melinjo dengan produk olahannya emping, moto maling atau daun mudanya dan bunganya bisa dibuat sayur asam identik dengan efek asam urat.

Tak salah tanaman ini mengandung banyak purin sehingga pegidap asam urat disarankan untuk menjauhi produk olahan dari melinjo.

Meski demikian ada khasiat tersembunyi dari makanan ini.

Beberapa artikel ilmiah yang ditemukan KabareSolo.com, melinjo dikenal mengandung protein nabati yang tinggi.

Tanaman ini dikenal juga sebagai antioksidan bahkan juga antimikoba.

Protein pada melinjo ini bisa digunakan sebagai pengawet makanan sekaligus obat baru untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Peptida yang diisolasi dari biji melinjo memiliki potensi untuk menghambat beberapa jenis bakteri.

Penelitian di Jepang bahkan menemukan kalau melinjo merupakan tanaman 'purba' yang dinilai hampir setara dengan ginkgo biloba.

Jadi kalau main-main ke Solo jangan lupa mampir ke pasar tradisional lalu cari moto maling.

Rasakan sensasi baru cemilan murah yang lezat. (KabareSolo.com/Robertus Rimawan Prasetiyo)


Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.