Header Ads

Perjalanan Panjang Sujud Kendang sang Pemungut Pajak Rumah Tangga

Seniman Djaduk Ferianto posting kabar dukacita di Instagram miliknya terkait kepergian musisi komedi Sujud Sutrisno.

KABARESOLO.COM - Kabar dukacita muncul dari Yogyakarta, seniman musik komedi Sujud Kendang atau nama aslinya Sujud Sutrisno berpulang, Senin (15/1/2018) pukul 12.20 WIB di RS Wirosaban Yogyakarta.

Bagi generasi 80-90 an kiprah Sujud Sutrisno sangat dikenal di kota yang disebut sebagai kota pelajar ini.

Sujud mampu berkarya dengan syair-syair lucu, menohok dan kreatif lewat irama-irama lagu yang populer kemudian ia sambung-sambung.

Seperti apa perjalanan panjang Sujud Kendang, berikut data dan fakta yang berhasil dihimpun Redaksi KabareSolo.com.

Kepiawaian Sujud dalam bermain kendang tak lepas dari pengaruh sang ayah Wiro Suwito.

Wiro berasal dari Klaten Jawa Tengah dikenal sebagai pakar dalam karawitan, seniman cokekan.

Wiro menjadi seniman jalanan lantaran kondisi ekonomi yang lemah.

Ayah Sujud mengamen uyon-uyon merupakan sebuah jenis musik tradisional Jawa bertempo pelan.

Kepiawaian Sujud ini dari ayahnya, ia belajar karawitan dari Wiro Suwito ayahnya.

Meski demikian jenis musik yang ia pilih sangat berbeda, Sujud yang saat itu lebih menggemari kendang lalu fokus untuk belajar kendang

Sujud pun mengamen untuk biaya sekolahnya walau ia tak bisa menyelesaikan pendidikan di tingkat SLTP.

Sejak tahun 1964 Sujud telah piawai bermain kendang dengan jenis musik 'plesetan' komedi.

Lagu-lagu populer ia mainkan dengan lirik yang ia ganti, lucu dan menghibur.

Sebuah pernyataan yang tak bisa terlupakan dari sosoknya adalah ia yang menganggap diri bukan sebagai pengamen melainkan PPRT yakni kepanjangan dari Pemungut Pajak Rumah Tangga.


Istilah ini merujuk pada kiprahnya yang mengamen dari pintu ke pintu seolah-olah memungut pajak dari rumah tangga.


Namun bukannya marah warga yang didatangi Sujud malah senang dan terhibur karena lagu-lagu yang ia bawakan bikin terpingkal-pingkal.

Nama besar dan dihormati seniman lain

Kemampuan Sujud 'menyihir' warga dengan kepiawaian musiknya sangat populer, bahkan banyak seniman yang menghormati karyanya.


Sujud dinilai memberikan warna baru bagi musik di Indonesia, sebuah musik komedi yang kreatif.

Dalam kesehariannya Sujud mengaku hujan jadi kendala dalam bekerja, karena akan sulit pegang payung sambil main kendang.


Parodi (plesetan) lagu adalah ciri khas Sujud, ia menyanyikan lagu dengan sambung menyambung beberapa lagu seperti Koes Plus, Didi Kempot, Iwan Fals, Rhoma Irama serta masih banyak lagu lainnya.

Sujud mampu mengemas lagu-lagu tersebut dengan lirik-lirik yang lucu dan bikin terpingkal.

Selamat jalan Sujud Kendang, jasamu tak bisa kami lupakan. (KabareSolo.com/Robertus Rimawan Prasetiyo)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.