Pagi di Kota Solo dan Kenangan Akan Ayahnya yang Suka Berbohong
![]() |
| IST - Kenangan akan sang ayah di pagi yang indah. |
KABARESOLO.COM - Banyak kisah nyata yang penuh hikmah bersliweran di jagat maya. Tentu peristiwa orang lain bisa menjadi pelajaran bermakna bagi kita.
Kisah ini terjadi di Kota Solo, dan mungkin akan membekas di hati karena banyak orang merasakan hal senada, Selasa 12 Mei 2026.
Dulu, pagi di Solo terasa biasa saja. Udara dingin, suara ayam kampung, orang-orang berangkat kerja naik motor pelan-pelan, lalu aroma masakan dari warung kecil yang mulai buka selepas subuh.
Tidak ada yang terasa istimewa waktu itu, karena semuanya dijalani hampir setiap hari.
Baru setelah dewasa, banyak orang sadar bahwa yang paling dirindukan ternyata justru momen-momen sederhana yang dulu dianggap biasa.
Seorang perantau asal Solo pernah menuliskan kisah yang membuat banyak orang ikut merasa sesak. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang hidup pas-pasan di salah satu kampung pinggiran kota.
Setiap Minggu pagi, ayahnya sering mengajaknya jalan kaki ke kawasan Manahan. Bukan untuk belanja atau hiburan mahal, melainkan sekadar melihat keramaian orang olahraga sambil mencari sarapan murah.
Kadang mereka hanya membawa uang yang benar-benar terbatas. Jika membeli satu porsi soto penuh terasa terlalu mahal, mereka memilih memesan satu mangkuk untuk dimakan berdua. Ayahnya lebih sering pura-pura kenyang.
“Le kowe wae sing mangan akeh, bapak wis wareg,” begitu kira-kira kalimat yang masih terus ia ingat sampai sekarang.
Waktu kecil, ia benar-benar percaya ayahnya sudah kenyang.
Baru setelah besar ia sadar, ayahnya suka berbohong demi dirinya. Karena kondisi keuangan terbatas sang ayah tak ingin anaknya kelaparan.
Makanya ayahnya terpaksa berbohong, mengaku kalau sudah kenyang agar anaknya bisa makan lebih banyak dan tidak kelaparan.
Ia juga mengingat bagaimana dulu sempat ingin menambah sate usus atau gorengan di meja warung, tetapi urung karena tahu uang yang dibawa pas-pasan.
Bahkan kadang sebelum memesan, ayahnya diam-diam menghitung lembar uang lusuh di saku celana.
Namun anehnya, masa-masa sulit itu justru menjadi kenangan paling hangat dalam hidupnya.
Kini kehidupannya jauh berubah. Ia sudah bekerja mapan di luar kota. Makan di restoran mahal bukan lagi sesuatu yang sulit. Kalau ingin menambah lauk, tinggal pesan. Tidak perlu lagi menghitung uang sebelum makan.
Tetapi ada satu hal yang tidak bisa ia ulang lagi. Ayahnya sudah tiada.
Dalam tulisannya, ia mengaku pernah beberapa kali pulang ke Solo dan sengaja datang lagi ke warung sederhana yang dulu sering mereka datangi. Warungnya sudah berubah lebih bagus, menunya lebih banyak, dan harga tentu tidak lagi sama.
Namun setiap duduk di sana, yang datang bukan rasa lapar. Melainkan penyesalan kecil yang sulit dijelaskan.
Sekarang ia mampu membelikan ayahnya dua mangkuk soto sekaligus kalau mau. Bisa menambah sate, kerupuk, teh hangat, bahkan mentraktir sampai puas tanpa perlu bingung memikirkan bayarnya.
Dulu tidak bisa karena uangnya tidak ada. Sekarang tidak bisa karena ayahnya yang sudah tiada.
Kalimat itu membuat banyak orang ikut terdiam. Sebab ternyata, banyak anak mengalami hal serupa. Saat kecil, orangtua berjuang keras menyenangkan anak dengan kemampuan seadanya.
Mereka rela tidak makan banyak, rela menahan keinginan sendiri, asal anaknya merasa cukup.
Dan ironisnya, ketika sang anak akhirnya benar-benar mampu membalas semuanya, waktu sudah lebih dulu mengambil kesempatan itu.
Mungkin itu sebabnya pagi di Solo sering terasa lebih emosional bagi sebagian orang. Karena kota ini menyimpan terlalu banyak kenangan sederhana: sarapan murah sebelum sekolah, naik sepeda bersama bapak, dibonceng ibu ke pasar pagi, atau duduk di taman sambil makan bekal seadanya.
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi sesuatu yang paling ingin diulang. Bukan karena makanannya. Bukan karena tempatnya. Tetapi karena dulu masih ada seseorang yang menemani di sebelah kita.
Kisah ini abadi, tentang pagi di Solo, tentang kenangan, kasih dan bakti pada sang ayah tapi terbentur beda alam.(*)




Post a Comment