Header Ads

Nostalgia 90-an! Anak Sekarang Mana Tahu Gobak Sodor, Dering Nokia dan Bilik Wartel

 

IST - Anak 90-an pasti ingat masa-masa itu.

KABARESOLO.COM - Ada masa ketika hidup terasa sangat sederhana, tetapi entah kenapa justru jauh lebih hangat, indah dan pengin rasanya kembali ke masa itu.

Bagi banyak orang yang tumbuh di Surakarta pada era 90-an, kenangan masa kecil bukan sekadar ingatan tentang tempat. Ia adalah rasa, Jumat 8 Mei 2026.

Rasa yang sampai hari ini kadang muncul tiba-tiba, saat mendengar dering telepon lama, melihat sepeda mini lewat gang, atau ketika tanpa sengaja mencium aroma gorengan sore hari.

Dulu, kebahagiaan di Solo tidak datang dari notifikasi. Ia datang dari suara teman yang berteriak dari depan rumah:

“Ayo dolan!”

Begitu pulang sekolah, tas dilempar begitu saja. Seragam kadang belum sempat diganti. Anak-anak sudah berhamburan keluar rumah. Gang-gang kecil berubah jadi dunia yang luas.

Ada yang main kelereng sampai jari kotor tanah. Ada yang bentengan sampai napas ngos-ngosan. Ada gobak sodor, petak umpet, lompat tali, bekel, sampai balapan sepeda keliling kampung.


 

Kalau jatuh, ya bangun sendiri. Kalau kalah, besok main lagi. Tak ada yang merekam. Tak ada yang mengunggah. Tapi anehnya, justru itulah yang paling membekas.

Di banyak sudut kampung di Solo waktu itu, sore hari terasa seperti jam paling hidup dalam sehari. Jalanan belum sepadat sekarang. Belum semua orang sibuk menatap layar. Orang masih duduk di teras rumah. Anak-anak masih kenal semua tetangga.

Ketika azan magrib terdengar, permainan bubar dengan sendirinya. Semua pulang.

Besok diulang lagi. Dan semua terasa cukup.

Saat Wartel Menjadi Tempat Menunggu Kabar

Anak-anak sekarang mungkin sulit membayangkan satu hal: dulu, menunggu telepon bisa membuat hati berdebar.

Di era 90-an sampai awal 2000-an, wartel adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari di Surakarta. Bukan cuma tempat menelepon. Wartel adalah tempat orang menunggu kabar.

Ada yang menelepon saudara di luar kota. Ada mahasiswa yang menelepon orang tua. Ada yang diam-diam menelepon seseorang yang spesial, sambil berharap percakapannya tidak terlalu lama karena tarif per menit terus berjalan.

Kadang kita menunggu di luar bilik kecil itu, mendengar suara orang lain yang samar-samar dari balik kaca. Ada rasa yang sekarang nyaris hilang: rindu yang benar-benar harus ditunggu.

Sekarang video call bisa dilakukan kapan saja. Dulu, satu panggilan telepon saja terasa sangat berarti.

Warnet: Tempat Petualangan Anak 90-an Dimulai

Lalu datang era warnet. Bagi anak-anak Solo generasi 90-an, warnet bukan sekadar tempat internetan. Warnet adalah pintu ke dunia lain.

Masih ingat suara keyboard yang dipencet cepat-cepat? Kursi plastik. Monitor tabung. Koneksi yang kadang lambat, tapi tetap terasa menegangkan.

Ada yang datang untuk buka email pertama kali. Ada yang cuma ingin bikin akun chatting.

Ada yang mengenal dunia lewat mIRC, Yahoo! Messenger, atau mulai penasaran membuka halaman demi halaman yang dulu terasa seperti keajaiban.

Tapi buat banyak anak laki-laki waktu itu, warnet sering berarti hal yang lebih sederhana:

Main game rame-rame. Bukan sendirian. Bukan sambil rebahan. Bukan pakai layar lima inci.

Tapi duduk berdempetan, saling teriak, saling ejek, saling tertawa. Kadang kalah, kadang menang. Kadang uang habis sebelum permainan selesai.

Dan justru di situlah serunya. Sebelum Game Ada di Kantong, Kita Pergi ke Arena Permainan. Dulu, kalau ingin main game, kita harus pergi.

Ada sensasi yang sekarang nyaris hilang. Menuju arena permainan di pusat keramaian seperti sekitar kawasan Singosaren, atau tempat-tempat hiburan kecil yang punya mesin-mesin arcade, dingdong, dan suara khas token yang jatuh.

Begitu masuk, dunia seperti berubah. Lampu warna-warni. Suara tombol ditekan cepat-cepat.

Layar-layar game berkedip. Anak-anak berdiri mengerubungi satu mesin, menonton teman yang sedang main, menunggu giliran sambil berharap lawannya cepat kalah.

Permainannya mungkin sederhana. Tapi rasa tegangnya luar biasa. Karena saat itu, main game adalah peristiwa sosial. Kita bertemu orang. Kita ngobrol. Kita tertawa. Kita saling kenal.

Hari ini, game jauh lebih canggih. Semuanya bisa dimainkan lewat ponsel. Tapi justru karena terlalu mudah diakses, kadang ada satu hal yang hilang: rasa menunggu giliran, rasa kebersamaan, rasa pulang dengan cerita.


 

Saat Nokia dan SMS Mengajarkan Arti Menunggu

Lalu datang masa ketika punya ponsel terasa seperti naik level. Bagi banyak anak muda Solo waktu itu, nama Nokia punya tempat tersendiri.

Ponselnya tebal. Layarnya kecil. Nada deringnya khas. Tapi justru di sanalah banyak cerita berawal. Era SMS adalah era yang mengajarkan kesabaran.

Mengetik satu pesan saja bisa lama. Tombol angka dipencet berkali-kali untuk mendapatkan satu huruf.

Kalimat harus hemat. Karakter terbatas. Kadang kita menulis, menghapus, menulis lagi. Lalu setelah pesan terkirim, ada satu hal yang paling mendebarkan: menunggu balasan.

Tidak ada centang biru. Tidak ada status online. Tidak ada “sedang mengetik…”. Hanya menunggu. Dan justru karena harus menunggu itulah, setiap balasan terasa berharga.

Ada yang diam-diam senyum sendiri ketika ponsel bergetar. Ada yang pura-pura santai padahal berkali-kali mengecek inbox. Ada juga yang sengaja menyimpan SMS tertentu berbulan-bulan.

Hari ini, ribuan pesan datang setiap minggu. Tapi entah kenapa, satu SMS di masa itu terasa lebih membekas daripada ratusan chat sekarang.

IST - Indahnya masa itu ingin rasanya kembali.

 

Solo Dulu Terasa Lebih Dekat

Di sekitar Pasar Gede Hardjonagoro, di jalan-jalan menuju Stasiun Solo Balapan, di sudut-sudut kampung dekat Singosaren, ada begitu banyak potongan hidup yang dulu terasa biasa saja.

Tapi sekarang justru terasa sangat mahal. Karena yang dirindukan sebenarnya bukan cuma tempatnya.

Bukan hanya wartelnya.Bukan hanya warnetnya. Bukan hanya dingdong-nya. Bukan hanya ponsel Nokia-nya. Yang paling dirindukan adalah cara hidupnya.

Dulu kalau mau bertemu teman, ya datang ke rumahnya. Ketuk pintu. Kalau ibunya bilang sedang keluar, ya pulang lagi.

Dulu hujan sore malah sering jadi alasan untuk tetap main. Dulu lampu jalan menyala adalah tanda waktu pulang. Dulu malam datang lebih pelan. Dan entah kenapa, hati terasa lebih penuh.

Sekarang Solo Lebih Modern, Tapi…

Hari ini Surakarta tumbuh jauh lebih cepat. Kafe ada di mana-mana. Mall makin ramai. Internet ada di tangan. Game ada di saku. Teman bisa diajak bicara kapan saja.

Semua jadi lebih cepat. Lebih praktis. Lebih canggih. Tapi mungkin justru karena semuanya terlalu cepat, banyak hal tidak sempat benar-benar tinggal lama di hati.

Anak-anak 90-an bukan sedang menolak perubahan. Bukan juga bilang masa dulu lebih sempurna.

Hanya saja ada satu hal yang sulit dibantah: dulu kita mungkin tidak punya banyak hal, tapi kita punya lebih banyak waktu untuk benar-benar merasakannya.

Dan mungkin itulah sebabnya, ketika orang-orang yang tumbuh di Solo era 90-an mendengar lagu lama, melihat wartel yang tinggal kenangan, atau menemukan ponsel Nokia lama di laci, ada sesuatu yang mendadak terasa sesak di dada.

Karena tiba-tiba sadar: kita bukan cuma merindukan masa kecil. Kita merindukan versi diri kita yang dulu. Versi yang belum tahu hidup akan berlari secepat ini.

Versi yang percaya bahwa sore itu panjang. Bahwa teman-teman akan selalu ada. Bahwa pulang ke rumah sebelum malam adalah rutinitas yang tidak akan pernah berakhir.

 

Padahal tanpa sadar, semua itu sudah lama berlalu. Dan mungkin, kalau diberi kesempatan kembali sehari saja, banyak anak 90-an di Solo tidak akan memilih tempat yang mewah.

Mereka mungkin hanya ingin kembali ke gang kecil di depan rumah. Mendengar teman memanggil. Lalu berlari keluar… seolah besok dunia tidak akan pernah berubah.(*)

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.