Header Ads

Dulu Sepi, Gelap, dan Dianggap Angker! Kini Malah Jadi Ikon Baru Kota Solo

 

KABARESOLO/RIMAWAN - Rusa di taman yang dulu sering dianggap angker.


KABARESOLO.COM, SURAKARTA - Tidak banyak orang menyangka, salah satu ruang publik paling ramai di Kota Solo hari ini pernah berada dalam masa-masa yang nyaris terlupakan.

Kini orang mengenalnya sebagai tempat berjalan santai, menikmati pertunjukan seni, berfoto, atau sekadar melepas penat. Namun jauh sebelum menjadi seramai sekarang, Taman Balekambang pernah memiliki wajah yang sama sekali berbeda.

Dulu, ketika sore mulai turun dan cahaya matahari perlahan menghilang, kawasan ini kerap memunculkan kesan yang membuat orang enggan berlama-lama.

Jalur-jalur setapaknya tampak lengang. Pepohonan tua berdiri rapat, membentuk bayangan-bayangan gelap. Angin yang berembus di antara ranting-ranting tua terdengar seperti bisikan samar. Di beberapa sudut, suasana terasa begitu sunyi sampai langkah kaki sendiri terdengar asing.

Bagi sebagian warga lama Solo, Balekambang dulu bukan tempat yang dicari ketika senja datang. Terlalu sepi. Terlalu gelap. Dan bagi sebagian orang, terlalu angker.

Namun justru dari masa sunyi itulah cerita besar taman ini bermula.





KABARESOLO/RIMAWAN - Bale Bojana, gedung lantai dua dengan fasilitas lengkap, ruang untuk pertemuan, panggung dengan gamelan dan bagian bawah adalah kantin.




 

Taman Cinta yang Lahir dari Sejarah

Balekambang bukan sekadar taman kota biasa.

Kawasan ini dibangun pada tahun 1921 oleh KGPAA Mangkunegara VII sebagai bentuk kasih sayang kepada dua putrinya. Nama Partini dan Partinah kemudian diabadikan dalam kawasan taman yang hingga kini masih dikenal masyarakat.

Sejak awal pembangunannya, Balekambang memang dirancang sebagai ruang hijau untuk rekreasi, tempat masyarakat beristirahat, sekaligus paru-paru kota di tengah geliat Surakarta yang terus tumbuh.

Pada masanya, taman ini bukan hanya indah, tetapi juga menjadi simbol kehalusan rasa dan kecintaan terhadap ruang hidup yang teduh.

KABARESOLO/RIMAWAN - Papan proyek revitalisasi.

 

Ketika Balekambang Masuk Masa Suram

Waktu, bagaimanapun, tidak selalu ramah. Seiring pergantian zaman, fungsi Balekambang perlahan memudar. Ada masa ketika taman ini kehilangan denyut kehidupannya.

Perawatannya menurun. Fungsi ekologisnya melemah. Aktivitas pengunjung pun semakin sedikit. Yang tersisa adalah ruang luas yang terasa sunyi.

Di bawah rindangnya pepohonan tua, beberapa sudut tampak kusam dan kurang terurus. Saat hari mulai petang, suasana di sana sering kali berubah drastis. Cahaya yang minim membuat area taman tampak remang-remang. Jalan setapak yang lengang menghadirkan kesan seolah kawasan itu terputus dari hiruk-pikuk kota.


 

Banyak warga lama Solo masih mengingat masa ketika Balekambang identik dengan kesunyian yang menyesakkan.

Bukan karena ada sesuatu yang terlihat menyeramkan, melainkan karena keheningan itu sendiri terasa begitu pekat.

Titik Balik yang Mengubah Segalanya

Perubahan besar mulai terjadi ketika pemerintah melakukan revitalisasi besar-besaran terhadap kawasan Balekambang.

Proyek ini bukan pembaruan kecil. Nilainya mencapai sekitar Rp150 hingga Rp165 miliar.

Penataan kawasan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembaruan lanskap, pembenahan fasilitas, hingga penguatan fungsi budaya dan wisata.

Balekambang kemudian dibangun kembali bukan hanya sebagai taman, tetapi sebagai ruang publik modern yang tetap menjaga jejak sejarahnya.

KABARESOLO/RIMAWAN - Banyak area bermain untuk anak-anak.

 

Wajah Baru yang Kini Hidup dan Penuh Cerita

Hari ini, sulit membayangkan bahwa tempat yang dulu begitu lengang kini menjadi salah satu titik paling hidup di Solo.

Di dalam kawasan Balekambang, pengunjung kini bisa menikmati panggung pertunjukan terbuka, Kolam Partini yang tampil lebih modern, area rusa, taman hijau yang tertata rapi, jalur pedestrian, hingga berbagai sudut foto yang ramai dipadati pengunjung.

Balekambang juga diproyeksikan menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa di Solo—tempat seni, tradisi, dan ruang publik bertemu dalam satu napas.

Dari tempat yang dulu nyaris ditinggalkan, kini Balekambang justru menjadi tempat orang datang kembali.

KABARESOLO/RIMAWAN - Kolam Partini juga dilakukan perbaikan.

 

Kenapa Balekambang Kini Selalu Bikin Kangen?

Mungkin jawabannya bukan hanya karena taman ini indah.

Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pemandangan.

Di sini orang bisa berjalan santai saat sore, mengajak keluarga, menonton pertunjukan seni, atau hanya duduk diam menikmati udara sambil mengenang masa lalu.

Balekambang menyimpan perasaan yang sulit dijelaskan.

Ada nostalgia. Ada kebanggaan. Ada kesadaran bahwa sebuah tempat yang pernah hampir kehilangan makna ternyata bisa hidup kembali—bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Dari Angker Menjadi Ikon Kota

Transformasi Balekambang seperti cermin perjalanan Kota Solo itu sendiri. Dulu, ia identik dengan kesunyian, gelap, dan perlahan dilupakan. Sekarang, ia hidup, ramai, dan dicintai banyak orang.

Dan mungkin itulah yang membuat Balekambang bukan sekadar taman. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif kota.

Kalau kamu datang ke sana hari ini, mungkin sulit membayangkan bahwa di tempat yang sama, dulu orang pernah memilih untuk tidak datang ketika senja mulai turun.

Justru di situlah letak keajaibannya. Karena Solo selalu punya cara untuk mengubah sesuatu yang nyaris hilang… menjadi tempat yang kembali dirindukan.(*)

 

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.