Dulu Diburu, Kini Nyaris Tak Laku! Kenapa NFT Tumbang dan Mana yang Masih Bernilai?
![]() |
| IST - Hikmah dari tumbangnya NFT. |
KABARESOLO.COM - Lima tahun lalu, NFT (non-fungible token) sempat menjadi simbol era baru aset digital. Gambar profil, ilustrasi digital, bahkan foto selfie mendadak bisa terjual ribuan dolar.
Hari ini, gambarnya jauh berbeda.
Sebagian besar pasar NFT telah kehilangan tenaga. Banyak koleksi yang dulu sempat laris kini turun lebih dari 90 persen, bahkan tidak sedikit yang nyaris tak punya pembeli sama sekali. Dalam dunia perdagangan aset, kondisi ini disebut zero liquidity-aset masih ada, tapi pasar untuk menjualnya hampir menghilang.
Data industri pada 2025–2026 menunjukkan volume transaksi NFT global masih jauh di bawah masa puncak 2021–2022. Sebagian besar koleksi tidak lagi aktif diperdagangkan, sementara hanya sedikit proyek besar yang tetap bertahan.
Kenapa NFT bisa tumbang?
Ada tiga alasan utama.
Pertama, gelembung spekulasi pecah.
Pada masa euforia, banyak orang membeli NFT bukan karena memahami nilainya, melainkan karena berharap bisa menjual lebih mahal ke pembeli berikutnya. Saat arus pembeli baru melambat, harga pun jatuh.
Kedua, pasar kebanjiran proyek baru.
Saat hype memuncak, ribuan koleksi bermunculan hampir setiap hari. Pasokan terlalu besar, sementara pembeli terbatas. Akibatnya, perhatian pasar terpecah dan mayoritas proyek kehilangan nilai.
Ketiga, banyak NFT tidak punya utilitas jangka panjang.
Ketika hype mereda, investor mulai bertanya: NFT ini sebenarnya berguna untuk apa? Jika tidak ada jawaban jelas, harga biasanya ikut ambruk.
Fenomena itu juga terlihat di Indonesia lewat Ghozali Everyday. Koleksi foto selfie yang sempat viral itu pernah membuat publik tercengang. Namun setelah euforia mereda, nilainya ikut terkoreksi tajam.
NFT seperti apa yang masih dianggap berharga?
Di tengah banyaknya proyek yang tumbang, pasar justru makin selektif.
NFT yang masih bernilai biasanya punya beberapa ciri penting:
1. Punya nilai sejarah
Contohnya CryptoPunks.
Koleksi ini sering dianggap sebagai salah satu NFT paling awal yang membentuk budaya koleksi digital modern. Karena faktor sejarah, status, dan kelangkaan, nilainya masih bertahan di level puluhan ribu dolar.
2. Jumlahnya terbatas dan jelas
NFT yang supply-nya ketat biasanya lebih dihargai daripada proyek yang terlalu banyak menerbitkan item baru.
3. Punya komunitas aktif
Dalam banyak kasus, nilai NFT juga terbentuk dari komunitas pemilik yang masih hidup dan terus aktif.
4. Ada utilitas nyata
NFT yang bisa dipakai untuk akses event, membership, game, lisensi digital, atau ekosistem tertentu biasanya punya peluang bertahan lebih baik dibanding NFT yang hanya mengandalkan gambar.
Kalau ingin punya NFT yang bagus, bagaimana cara mendapatkannya?
Ada dua jalur utama.
Beli di pasar sekunder
Platform seperti OpenSea masih menjadi tempat utama jual beli NFT.
Di sini, investor biasanya mencari proyek yang sudah punya reputasi, volume transaksi sehat, dan komunitas aktif.
Ikut mint saat proyek baru rilis
Mint berarti membeli NFT langsung saat pertama kali diluncurkan.
Ini bisa lebih murah dibanding beli di pasar sekunder, tapi juga jauh lebih berisiko. Banyak proyek baru gagal bertahan setelah hype awal.
Karena itu, sebelum membeli NFT, investor biasanya melihat beberapa hal:
- Siapa tim pengembangnya?
- Apakah proyek punya roadmap jelas?
- Apakah komunitasnya organik atau hanya ramai sesaat?
- Dan apakah ada kegunaan nyata setelah NFT dibeli?
- Lalu bagaimana cara mendapat keuntungan dari NFT?
Secara umum, ada tiga cara.
1. Capital gain
Cara paling umum: beli murah, jual lebih mahal.
Tapi ini hanya mungkin kalau NFT tersebut memang punya likuiditas. Banyak orang untung di atas kertas, tapi gagal menjual saat pasar sepi.
2. Royalti atau lisensi
Beberapa NFT memberi hak komersial atau peluang monetisasi dari karya yang dimiliki.
3. Utilitas ekosistem
Di beberapa proyek, NFT bisa dipakai untuk akses fitur eksklusif, hadiah komunitas, token tambahan, atau manfaat tertentu dalam game dan platform digital.
Namun perlu dicatat: keuntungan di NFT sangat bergantung pada permintaan pasar. Kalau pembeli menghilang, harga bisa turun drastis walau koleksinya terlihat menarik.
Pelajaran penting: jangan FOMO
Runtuhnya pasar NFT memberi pelajaran yang berlaku untuk semua jenis investasi—baik saham, kripto, emas, maupun properti.
Jangan membeli hanya karena ramai.
Sebelum masuk ke aset apa pun, pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah:
Apa nilai dasarnya?
Siapa pembelinya nanti?
Kalau pasar memburuk, apakah aset ini masih bisa dijual?
Karena dalam investasi, yang paling berbahaya sering kali bukan aset yang jelek.
Melainkan membeli sesuatu yang tidak benar-benar dipahami, hanya karena takut ketinggalan tren.(*)




Post a Comment