Header Ads

Daftar 9 Seniman Menari 24 Jam Tanpa Henti! Penari Amerika Ikut “Gila” di Solo

 

IST/Screenshoot IG AGENDA SOLO - 9 Penari sukses menampilkan tariannya selama 24 jam.

KABARESOLO.COM, SURAKARTA - Suasana dini hari di ISI Surakarta berubah menjadi panggung ketahanan manusia.

Bukan sekadar menari, ini pertaruhan fisik, mental, dan jiwa. Dan ketika jam menunjukkan 06.00 WIB, Kamis (30/4/2026) lalu, sejarah kembali tercipta: 9 penari resmi menaklukkan 24 jam menari nonstop.

Tidak ada jeda. Tidak ada istirahat. Hanya tubuh, musik, dan tekad.

Dari Amerika Sampai Madura: Ini 9 Penari yang Bertahan 24 Jam

Berdasarkan data lapangan dan publikasi event, berikut nama penari yang mengikuti tantangan ekstrem ini:

  1.     . Dr. Ari Dharminalan Rudenko (Amerika Serikat)
  2. Farah Aini Asturi (Jakarta)
  3. Fachry Destyanto Matlawa (Papua)
  4. M Mughni Mungaran (Bandung)
  5. Irfan Nur Mahmudi (Trenggalek)
  6. Sri Cicik Handayani (Sumenep, Madura)
  7. Dani S Budiman (Cilacap)
  8. Adif Marhaendra (Wonogiri)
  9. Sekar Tri Kusuma (Solo)

Nama-nama ini bukan sembarangan. Mereka adalah penari terpilih yang siap diuji secara fisik dan artistik selama 24 jam penuh.



 

Dari semua peserta, satu nama langsung mencuri perhatian:

Dr. Ari Dharminalan Rudenko

·       Ia bukan sekadar penari, tapi:

·       akademisi tari internasional

·       direktur artistik

·       aktif dalam jaringan seni global

Beberapa karya pentingnya antara lain: Ghosts of Hell Creek, A Song for… (karya eksploratif berbasis tubuh dan narasi)

Kehadirannya di Solo menjadi bukti bahwa: “24 Jam Menari” bukan lagi event lokal, ini panggung dunia.

Penari Lain Juga Bukan Kaleng-Kaleng

Salah satu yang menonjol:

Farah Aini Asturi Penari sekaligus koreografer dan M Mughni Mungaran keduanya aktif mengangkat budaya lokal ke panggung kontemporer. Dikenal lewat karya berbasis tradisi yang dikembangkan secara modern

Selain itu, beberapa penari membawa kekuatan identitas daerah: Sri Cicik Handayani, gaya Madura yang kuat dan ritmis. Adif Marhaendra, Sekar Tri Kusuma, Irfan Nur Mahmudi dan Dani S Budiman eksplorasi tubuh khas Jawa.

Kaemudia Fachry Destyanto Matlawa, ekspresi dari wilayah timur Indonesia Semua bertemu dalam satu garis waktu: 24 jam tanpa putus.

Bukan Sekadar Tahan Capek, Ini Ujian Mental

Menari 24 jam bukan cuma soal fisik. Tantangannya jauh lebih brutal: otot mulai drop setelah beberapa jam, dehidrasi dan kelelahan ekstrem, tapi ekspresi harus tetap hidup.

Yang paling berat justru: menjaga kualitas gerak tetap “bermakna”, bukan sekadar bergerak

Karena dalam event ini, setiap penari tetap harus: menyampaikan pesan, menjaga estetika dan mempertahankan karakter karya.

Event Legendaris yang Sudah Mendunia

“24 Jam Menari” bukan event baru. Ini adalah tradisi tahunan di ISI Surakarta dalam rangka: World Dance Day. Melibatkan ribuan penari setiap tahun, diikuti peserta dari berbagai negara, menjadi salah satu perayaan Hari Tari Dunia paling ekstrem di Indonesia

Kenapa Event Ini Viral?

Karena ini bukan sekadar seni. Ini adalah eksperimen batas tubuh manusia, kolaborasi lintas budaya, dan bukti bahwa seni bisa melampaui logika fisik. Di era digital, ketika banyak hal instan, mereka memilih satu hal yang sulit, bertahan, terus bergerak, selama 24 jam. Di akhir pertunjukan, tidak ada pemenang. Tidak ada juara. Yang ada hanya satu kesimpulan manusia bisa melampaui batas, ketika seni jadi alasan untuk bertahan. Dan dari Solo, pesan itu menggema ke dunia.(*)



Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.