Header Ads

'Mbangun Ndeso' Versi Milenial Film Kritik Menggelitik Pemuda Grigak Berbiaya Nol Rupiah

ISTIMEWA - Pemuda Grigak saat memproduksi film berbanderol nol rupiah.

Generasi 90-an masih ingat dengan acara TVRI Mbangun Ndeso? Beberapa karakter aikonik tak terlupakan ala Den Baguse Ngarso, Pak Bina, Sronto, Kuriman dan sebagainya. Filmnya lucu, asyik, menggelitik dan penuh kritikan yang membangun. Tak kalah dengan itu kini ada sekumpulan anak muda yang membuat film berbasis persoalan desa dikemas dengan kocak, cerdas dan menawan. Uniknya film ini berbanderol biaya nol rupiah.

KABARESOLO.COM - Kreativitas tak berbatas materi, buktinya sekumpulan pemuda Grigak, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini mampu membuat film yang menarik dengan biaya sangat murah.

Mereka menyebutnya film berbiaya nol rupiah karena memang benar-benar tak ada biaya yang dikeluarkan.

KabareSolo.com berkesempatan wawancara dengan salah satu penggerak dalam pembuatan film ini, penulis naskah sekaligus seseorang yang memiliki peran unik dalam film ini.

Dia adalah Timotius Tri Yogatama atau akrab dipanggil Tius.

Menonton film ini seolah dibawa ke nostalgia masa lalu yakni acara Mbangun Ndeso.

Karakter-karakter yang kuat dan menawan, Pak Bina yang memang sesuai dengan namanya memiliki peran untuk membina, Den Baguse Ngarso sosok antagonis dan berkarakter kuat dalam tiap film yakni sebagai bang kerok, penimbul masalah, kaya, sombong dan menang sendiri ada juga sosok lain Sronto yang lugu, sabar dan setia kawan sementara Kuriman sosok yang mudah marah.

Film Mbangun Ndeso merupakan acara yang jaya di masanya, selalu ditunggu-tunggu karena sangat menghibur sekaligus memiliki pesan yang dalam untuk pembangunan desa.

Nah Tius yang berperan sebagai Marwan mirip dengan sosok Den Baguse Ngarso, sosok antagonis, sok tahu, keminter, pinter dengan bujuk dan rayu.

Sementara ada juga Mulyono sosok yang telmi atau telat mikir, lugu, manutan sekaligus bingungan.

Ada juga Gothot yang penuh semangat juga mudah marah dan satu lagi peran utamanya adalah gadis cantik bernama Sekar.

Sekar semacam Pak Bina yang 'meluruskan' sesuatu yang salah.

Sekar merupakan calon sarjana yang mati-matian berupaya agar warga desa tak tergiur menjual sawah untuk dibangun menjadi mall.

Marwan dengan penuh bujuk dan rayuan mautnya berupaya agar sawah-sawah warga direlakan dijual pada investor.

Dalam film berdurasi lebih dari satu jam ini bukan hanya menonjolkan masalah yang dihadapi warga desa tapi juga solusi.

Sekar mampu menawarkan solusi yang ideal agar warga tetap bisa bertani dan pendapatan bertambah dengan mengangkat desa wisata.

Bagaimana awal mulanya hingga film ini bisa teralisasi.

"Ya dari kumpul bareng Mas..Senang main lensa dan aku lagi sinau (belajar) nulis naskah drama kebetulan waktu itu, dan kebetulan punya potensi teman-teman yg kulina ngethoprak (sering main ketoprak -kesenian tradisional), ada editor yang sekolah di MMTC," jelas Tius kepada KabareSolo.com.

Semangat pembuatan film ini menurut Tius adalah sebagai media belajar sekaligus kritik membangun.

Tius memberi istilah dalam naskah film berjudul 'Calon Sarjana' ini sebagai ekokritik.

Dalam film tersebut memang mengangkat isu yang sedang muncul saat ini terutama di desa yakni mulai berkurangnya anak muda yang mau bekerja sebagai petani lantaran petani dianggap sebagai pekerjaan yang kuno.

Selain itu juga merespon isu penjualan sawah yang hampir saja terjadi di Grigak, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang mau dibangun oleh investor menjadi area publik berbasis bisnis.

Dan satu hal lagi pesan yang ingin disampaikan adalah memperjuangkan sesuatu tidak harus dengan tindakan tapi juga lewat pesan-pesan atau pemikiran dalam hal ini film yang dibuat.

Film menjadi bentuk pemikiran yang bisa ditonton, menghibur sekaligus beri pesan yang berharga.

Saat ini tak dipungkiri lahan-lahan pertanian mulai terkikis, bukan lagi ditanami padi tapi justru gedung-gedung tinggi, gedung bertingkat atau mall.

Kegelisahan yang ingin disampaikan melalui film ini adalah generasi muda yang mulai meninggalkan profesi petani, bertani sebagai pekerjaan yang belum bisa memenuhi kesejahteraan optimal bagi petani.

Nah dalam film ini muncul gagasan yang menjadi solusi atas persoalan tersebut.

Pembuatan film ini menurut Tius membutuhkan waktu sekitar dua bulan, lantaran ia juga harus menyesuaikan jadwal kuliah dan jadwal kerja para pemain.

"Semangatnya Gugur Gunung (saling membantu tak menuntut upah demi kepentingan bersama) mas pokoke, paribasan wis melu kesyuting wis seneng (istilahnya, para pemain bisa ikut dalam proses pembuatan film saja sudah senang)," imbuh Tius.

Lantaran tak ada honor para pemain serta minum dan konsumsi masing-masing dari para pemain dan kru, maka memang tak ada uang sepeserpun yang dikeluarkan.

Dalam proses pembuatan film ini tak jarang ada yang membawa makanan dan minuman dan saling berbagi.

Calon Sarjana ini adalah film yang kedua sebelumnya sudah diproduksi  Ngono Ya Ngono Ning Ojo Ngono (2014).

Nah Calon Sarjana baru saja selesai produksi dan yang sedang digarap saat ini adalah Filosofi Rumah (2018).

Filosofi Rumah merupakan film pendek yang akan diikutkan dalam perlombaan.

Lalu bagaimana dengan peralatan yang dibutuhkan?

"Semua seadanya mas, siapa yang punya alat dibawa lalu proses syuting," kata Tius.

Keren ya, sangat menginspirasi.

Nah bagi yang ingin menonton filmnya silakan simak tautan kanal atau tampilan YouTube di bawah ini.



Jangan lupa subscribe ya dan bagikan di media sosial, ini adalah cara membantu mereka untuk terus berproduksi dan memberi inspirasi bagi banyak orang.

ISTIMEWA - Momen-momen saat produksi film yang mengangkat persoalan desa.


Selamat untuk Tius dan kawan-kawan yang telah berjuang dengan penuh semangat, berkarya tanpa banyak rencana, memberi sumbang sih solusi lewat film tanpa banyak alasan atau ketiadaan waktu dan peralatan.

Dukung terus ya dan semoga Film Filosofi Rumah bikinan pemuda Grigak bisa meraih juara. (KabareSolo.com/Robertus Rimawan Prasetiyo)




No comments

Powered by Blogger.